Menyadari pentingnya menjaga situs bersejarah peninggalan leluhur, pemerintah daerah bertindak cepat menjadikannya sebagai kawasan Cagar Budaya serta destinasi wisata religi bersejarah.
Pemerintah Kota Kotamobagu bersama dinas terkait secara konsisten melakukan pendataan, pemugaran, hingga pembangunan akses jalan masuk hotmix ke kompleks makam pahlawan ini.
Kesadaran warga lokal pun sangat tinggi. Terbukti, sejumlah warga dengan sukarela menghibahkan lahan pribadi mereka tanpa ganti rugi agar penataan kompleks makam Datoe Binangkang dapat dibangun dengan fasilitas yang lebih representatif.
Tak jarang, pejabat-pejabat tinggi negara maupun pemuka agama dari tingkat provinsi hingga nasional menyempatkan diri berziarah untuk mendoakan dan mengenang sang penguasa semenanjung utara ini.
Menghidupkan Kembali Semangat Leluhur di Era Modern
Peninggalan Bogani dan Datu Binangkang tidak hanya mewujud pada makam fisik, melainkan hidup dalam entitas pemerintahan dan ruang publik.
Nama besar mereka diabadikan di berbagai sektor krusial, mulai dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Datu Binangkang di Kabupaten Bolaang Mongondow, Taman Nasional Bogani Nani Wartabone yang menjadi paru-paru dunia kebanggaan Sulawesi, hingga Patung Bogani megah yang menjadi ikon pusat Kota Kotamobagu.
Bagi masyarakat modern, mengenal sejarah Bogani dan kebesaran Raja Loloda Mokoagow adalah upaya merawat identitas diri.
Di era disrupsi informasi, nilai-nilai keteguhan, kemandirian politik, dan rasa cinta tanah air dari masa keemasan Bolaang Mongondow adalah inspirasi terbaik bagi generasi muda dalam membangun kemajuan daerah, dengan tanpa melupakan kearifan luhur budayanya.
