Pada masa itu, banyak wilayah di sekitar Minahasa berada di bawah paying kekuasaan Raja Loloda Mokoagow.
Kebijakan dan gaya kepemimpinannya yang tegas serta disegani memastikan stabilitas wilayah, meskipun ancaman dari imperialis Barat terus berdatangan silih berganti.
Dinamika Politik, Perlawanan terhadap VOC, dan Transisi Kekuasaan
Kejayaan Bolaang Mongondow di bawah Datu Binangkang tentu membuat cemas VOC yang memiliki ambisi memonopoli jalur perdagangan rempah di Nusantara timur.
Menghadapi militer Mongondow yang tangguh, VOC beralih menggunakan taktik usang yang mematikan: devide et impera (politik pecah belah).
Taktik licik ini berhasil mempengaruhi para pemimpin daerah (ukung) dari wilayah-wilayah yang tunduk pada Datu Binangkang, seperti Aris, Clabat, Tonsea, Tondano, dan Tonsawang.
Mereka akhirnya dihasut untuk mendeklarasikan diri keluar dari wilayah kekuasaan Raja Bolaang Mongondow dan memilih mengikat perjanjian kontrak persahabatan dengan VOC.
Sikap Datu Binangkang terhadap intervensi asing sangat jelas: menolak tunduk.
Namun, intrik sejarah kolonial justru merayap masuk ke dalam lingkaran keluarganya sendiri.
