Padahal, masa ini adalah era di mana Kerajaan Bolaang Mongondow bertransformasi menjadi kekuatan geopolitik yang diperhitungkan oleh bangsa asing.
Pada abad ke-17, takhta kerajaan dipegang oleh Punu' Tadohe.
Di era Tadohe, terjadi perombakan struktur birokrasi dan sosial besar-besaran.
Gelar penguasa yang awalnya disebut Punu' perlahan mulai digantikan dengan sebutan Datu atau Raja.
Tadohe membagi masyarakat ke dalam tingkatan sosial yang lebih terstruktur (Kinalang dan Paloko) dan mulai memperkenalkan sistem pertanian menetap kepada masyarakat yang sebelumnya terbiasa berburu dan meramu.
Putra Tadohe, yakni Loloda Mokoagow (Datu Binangkang), membawa kerajaan ini pada fase peperangan dan diplomasi tingkat tinggi.
Ia dikenal sebagai "Raja Peperangan" yang sangat disegani, tak hanya oleh suku-suku tetangga di Minahasa, tetapi juga oleh Spanyol dan VOC.
Sejarah mencatat bahwa pada abad ke-17 inilah terjadi pergeseran batas wilayah dan berbagai perjanjian (verbond) dengan Belanda yang kelak mengubah wajah peta Sulawesi Utara selamanya.
