Bogani sendiri adalah gelar bagi sosok pemimpin kelompok (klan) yang dipilih karena keberanian, kekuatan fisik, kebijaksanaan, serta kemampuan melindungi rakyatnya.
Suatu hari, usai mencari ikan di sungai, Bogani Amalie dan Inalie dikagetkan oleh sebuah fenomena alam yang ganjil.
Berbagai versi cerita rakyat menyebutkan adanya suara gemuruh yang sangat dahsyat dari arah Gunung Bumbungon.
Saat mereka mencari sumber suara tersebut, mereka menemukan seorang bayi laki-laki yang memancarkan aura luar biasa.
Ada pula versi legenda yang menceritakan bahwa bayi tersebut muncul dari sebatang bambu kuning yang pecah bergemuruh.
Karena kemunculannya yang diiringi oleh suara gemuruh alam, bayi tersebut kemudian diberi nama Mokodoludut, yang dalam bahasa Mongondow kuno secara harfiah memiliki arti "bergemuruh".
Bayi ini kemudian diasuh dengan penuh kasih sayang oleh Bogani Amalie dan Inalie, dan biaya perawatannya konon ditanggung secara gotong-royong oleh seluruh penduduk di wilayah tersebut.
Sistem Bogani dan Lahirnya Demokrasi Nusantara Lewat Mobakid
Sebelum Kerajaan Bolaang Mongondow berdiri tegak sebagai satu entitas politik yang utuh, masyarakat pedalaman (Mongondow) dan pesisir (Bolaang) hidup dalam kelompok-kelompok kecil yang independen.
