Seperti dialami Dr. Wijaya Kusumah atau akrab disapa Omjay—seorang guru blogger sekaligus Sekjen Ikatan Guru Informatika PGRI—yang hingga kini masih menunggu verifikasi ijazah S3-nya tuntas.
Padahal, semua dokumen telah diunggah dengan benar. Bukan hanya Omjay, ribuan guru lain di berbagai daerah pun mengalami nasib serupa.
Penundaan TPG bukan hanya berdampak pada kondisi finansial guru, tetapi juga merusak motivasi dan semangat mengajar.
Guru yang seharusnya fokus pada peningkatan kualitas pembelajaran justru dibuat sibuk mengurus administrasi dan mengecek status validasi berulang kali.
Lebih jauh, banyak yang merasa hak profesionalnya tidak dihargai oleh negara.
"TPG bukan sekadar uang tambahan. Ia adalah bentuk penghargaan moral dan finansial bagi guru yang telah memenuhi standar profesional. Ketika pencairannya tertunda, bukan hanya dompet yang menjerit, tetapi juga semangat pengabdian yang perlahan terkikis," tulis Omjay dalam artikelnya di Kompasiana (9/10/2025).
Penyebab Utama: Validasi Data dan Kebijakan yang Rumit
Berdasarkan penelusuran Pojoksatu.id (6/10/2025), ada beberapa penyebab umum penundaan TPG:
- Kekurangan jam mengajar linear (tidak sesuai sertifikasi). - Guru belum ditugaskan sebagai wali kelas, padahal tugas tambahan ini bisa menambah jam mengajar. - Perbedaan data antara Dapodik dan Info GTK, sehingga muncul status "belum valid" atau kode [02]. - Sistem yang masih dalam proses sinkronisasi atau perhitungan formasi guru per rombongan belajar.
