Lonjakan harga minyak dunia kembali mengguncang pasar energi global.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu gangguan pasokan minyak membuat harga bahan bakar minyak (BBM) di Eropa melonjak tajam, sekaligus meningkatkan tekanan terhadap Amerika Serikat untuk segera mendorong berakhirnya konflik yang memicu krisis energi tersebut.
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa volatilitas harga minyak tidak hanya memengaruhi pasar energi, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap inflasi global, stabilitas ekonomi, dan ketahanan energi di banyak negara.
Harga Minyak Dunia Melonjak akibat Konflik Timur Tengah
Harga minyak mentah global melonjak drastis setelah konflik di Timur Tengah mengganggu jalur distribusi energi dunia. Harga minyak bahkan sempat menembus kisaran US$119 per barel, level tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir.
Lonjakan ini terjadi setelah meningkatnya ketegangan militer yang berdampak pada jalur pelayaran strategis, termasuk Selat Hormuz—rute penting yang dilewati sekitar 20 persen pasokan minyak global.
Gangguan di jalur ini memicu kekhawatiran akan terhentinya pengiriman energi dari kawasan produsen utama minyak dunia.
Situasi tersebut membuat pasar energi global sangat sensitif.
Setiap perkembangan geopolitik langsung memicu fluktuasi tajam harga minyak.
