Hacker tersebut diketahui mampu membobol basis data skala besar, menjual data di forum gelap internasional, hingga konsisten berinteraksi dengan komunitas siber global.
WFT: Pengguna Nama Bjorka untuk Pemerasan
Teguh Aprianto menjelaskan bahwa akun @bjorkanesiaaa yang dimiliki WFT memiliki afiliasi dengan akun lain di platform DarkForums dengan nama pengguna Skywave.
"Dia memang suka memakai nickname orang lain, termasuk mengaku sebagai Bjorka," tutur Teguh.
Data-data hasil pembobolan yang diunggah oleh akun Skywave diduga bukan hasil kerja sendiri.
"Dia hanya mengunggah ulang data yang dibocorkan oleh akun bernama Black yang aktif di BreachForums," kata Teguh.
Wakil Direktur Reserse Siber Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Fian Yunus mengungkapkan, WFT memiliki banyak akun.
Selain akun @bjorkanesiaaa di platform X dan akun Skywave di DarkForums, pelaku sempat menggunakan username Shint Hunter hingga Opposite6890.
"Mungkin, setiap orang bisa jadi siapa saja di internet.
Kami perlu pendalaman lebih dalam lagi terkait dengan bukti-bukti yang kami temukan sehingga itu bisa kami formulasikan," kata Fian.
Kekhawatiran Keamanan Data Nasional
Meskipun data yang dibocorkan Bjorka merupakan data lama, kejadian ini tetap memicu kekhawatiran besar terhadap keamanan data nasional.
Banyak pihak menilai tindakan Bjorka merupakan bentuk kritik keras terhadap sistem keamanan data institusi negara yang masih lemah.
Fenomena ini dikenal dengan istilah "continuity of persona", yakni ketika satu identitas digital bisa dikelola lebih dari satu orang.
Setelah penangkapan WFT, akun Bjorka tetap aktif di BreachForums maupun Telegram, bahkan masih memposting pesan menantang aparat.
Kronologi Penangkapan WFT
Polda Metro Jaya menangkap WFT di Minahasa, Sulawesi Utara, atas dugaan tindak pidana akses ilegal dan manipulasi data.
WFT mengklaim telah meretas 4,9 juta data nasabah salah satu bank swasta.
Akun @bjorkanesiaaa sempat viral ketika mengancam Bank BCA soal peretasan data nasabah pada Februari 2025.
WFT yang mengaku sebagai Bjorka untuk memeras bank tersebut akhirnya berhasil ditangkap setelah pelacakan digital oleh tim siber Polda Metro Jaya.
Namun, penangkapan ini justru memicu kemarahan Bjorka yang asli, yang kemudian membuktikan kapabilitasnya dengan membocorkan data internal Polri sebagai bentuk balas dendam.
Hingga kini, Polri masih melakukan pendalaman untuk memastikan apakah WFT merupakan sosok Bjorka yang menyebarkan data 1,3 miliar kartu SIM, data pengguna IndiHome, data KPU, hingga data transaksi dokumen yang sempat ramai sejak 2022 lalu.
***