Selain gaji ke-13, pemerintah juga akan mengakselerasi bantuan pangan periode April-Juni untuk 33,2 juta keluarga penerima manfaat, menjaga subsidi dan kompensasi energi APBN 2026 sebesar Rp56,8 triliun, serta melanjutkan revitalisasi satuan pendidikan dengan anggaran Rp13,4 triliun.
Program Pendukung: 3 Juta Rumah hingga Insentif Otomotif
Pemerintah juga mengumumkan implementasi program 3 juta rumah melalui skema FLPP dengan alokasi anggaran Rp37,1 triliun, serta bantuan stimulan perumahan swadaya sebesar Rp8,9 triliun. Kredit program perumahan disiapkan dengan plafon mencapai Rp34 triliun.
Menariknya, pemerintah tengah memikirkan pemberian insentif untuk sektor otomotif dan motor. "Nah, ini nanti akan kami laporkan kepada Bapak Presiden," ungkapnya, menandakan adanya stimulus lanjutan untuk menjaga kinerja sektor riil.
Indikator Sosial dan Inflasi yang Terkendali
Pemerintah juga memaparkan bahwa perbaikan indikator sosial turut memperkuat kualitas pertumbuhan ekonomi. Sepanjang Februari 2025 hingga Februari 2026, penyerapan tenaga kerja bertambah 1,89 juta orang, sehingga total pekerja mencapai 147,67 juta. Tingkat pengangguran terbuka pun turun dari 4,76% menjadi 4,68%.
Sementara itu, tingkat inflasi pada April 2026 tercatat sebesar 2,42%, kembali berada dalam rentang sasaran 2,5% plus minus 1%. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di angka 122,9, dan neraca perdagangan mencatatkan surplus 71 bulan berturut-turut.
Dengan serangkaian stimulus ini, termasuk pencairan gaji ke-13 ASN, pemerintah optimistis bahwa belanja pemerintah akan terus menjadi penopang utama pertumbuhan di kuartal II 2026.
Sumber: Konferensi pers Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian terkait Capaian Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026 dan Kebijakan Fiskal, didampingi Deputi Feri dan Deputi Haryo, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pukul 11.00 WIB, Selasa (12/5/2026).