Fenomena serupa juga terjadi di Kalimantan Selatan.
Stok Pertalite di SPBU Tibung Raya, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, kosong pada Rabu (10/6/2026) pagi.
Seorang petugas SPBU mengatakan bahwa stok Pertalite belum datang dan hanya tersedia Solar dan Pertamax yang harganya justru baru saja naik.
Tekanan yang Sudah Berlangsung Lama
Krisis daya beli kelas menengah sebenarnya bukan fenomena baru.
Data menunjukkan jumlah kelas menengah Indonesia terus menyusut dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kelas menengah Indonesia turun dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta orang pada 2024.
Angka itu kemudian kembali turun menjadi sekitar 46,7 juta orang pada 2025.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan nasib kelas menengah Indonesia pada 2026 berada dalam fase yang sangat rentan akibat tekanan biaya hidup yang terus meningkat di tengah stagnasi pendapatan rumah tangga. "Masalahnya bukan hanya pendapatan yang stagnan, tetapi biaya hidup yang naik lebih cepat daripada kemampuan rumah tangga menyesuaikan diri," ujarnya.
Ia menyoroti bahwa risiko penurunan kelas menengah pada 2026 masih cukup besar, terutama bagi kelompok masyarakat yang berada sedikit di atas garis rentan.
Kelompok ini dinilai memiliki tabungan tipis, pendapatan tetap, tetapi dibebani cicilan dan kebutuhan pokok yang terus meningkat.
Sektor Hiburan: Antara Daya Tahan dan Perubahan Perilaku
Menariknya, meski tekanan ekonomi semakin berat, industri hiburan di Indonesia masih menunjukkan daya tahan yang cukup kuat.
Ketua Umum Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI), Dino Hamid, mengatakan bahwa di tengah tantangan ekonomi dan pelemahan nilai tukar rupiah, minat masyarakat untuk menghadiri konser musik dan festival terlihat tetap tinggi.
Dino menjelaskan hal ini sejalan dengan tren global yang dikenal sebagai experience economy atau ekonomi berbasis pengalaman.
Dalam tren ini, masyarakat cenderung mengalokasikan pengeluarannya untuk mendapatkan pengalaman yang berkesan dibandingkan membeli barang fisik. "Bisa jadi di tengah ekonomi yang sedang menantang hari ini, makin banyak masyarakat yang menjadikannya sebagai pelarian dengan datang ke konser," tambah Dino.