Ekonomi

Pertamax Naik 32%, Rupiah Tembus Rp18.200: Gaya Hidup dan Hiburan Kelas Menengah Ludes Digerus Inflasi

Diperbarui 0 8 mnt baca 1,530 kata 5 halaman
Pertamax Naik 32%, Rupiah Tembus Rp18.200: Gaya Hidup dan Hiburan Kelas Menengah Ludes Digerus Inflasi
Pertamax Naik 32%, Rupiah Tembus Rp18.200: Gaya Hidup dan Hiburan Kelas Menengah Ludes Digerus Inflasi — Dua Kali Lipat Be...

Para ekonom menyebut fenomena ini sebagai disposable income shrinkage: setelah memenuhi kebutuhan pokok, energi, dan cicilan, "uang sisa" untuk hiburan semakin tipis atau bahkan tidak ada sama sekali.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan bahwa ketika harga pangan dan energi naik, kelompok kelas menengah biasanya mulai mengurangi belanja nonpokok, menunda pembelian rumah dan kendaraan, menarik tabungan, hingga menambah utang konsumtif. "Ini terlihat dari perubahan pola belanja. Ketika kelas menengah turun kelas, porsi belanja makanan bisa naik dari sekitar 42 persen menjadi 56 persen atau bahkan 62 persen dari total pengeluaran," katanya.

Akibatnya, ruang belanja untuk pendidikan, kesehatan, rekreasi, tabungan, dan investasi menjadi semakin sempit.

Santi yang diwawancarai di awal berita ini mengaku sudah merasakan dampaknya. "Kami sudah hitung ulang anggaran bulanan. Pertamax naik, artinya biaya antar-jemput anak dan transportasi suami ke kantor bertambah sekitar Rp400 ribu per bulan. Cicilan rumah naik hampir Rp300 ribu setelah BI Rate naik. Total tambahan beban sekitar Rp700-800 ribu per bulan," katanya sambil membuka catatan keuangan di ponselnya.

"Tiket konser Taylor Swift untuk sekeluarga harganya Rp3,2 juta. Uang itu sekarang saya pakai untuk menutup kenaikan cicilan. Liburan ke Bali yang budget-nya Rp8 juta? Kami batalkan dulu, mungkin sampai tahun depan," tambahnya.

Migrasi Massal ke Pertalite: Antrean Panjang dan Kelangkaan

Kenaikan harga Pertamax yang mencapai 32 persen juga memicu perpindahan massal pengguna BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi.

Selisih harga antara Pertamax (Rp16.250) dan Pertalite (Rp10.000) yang melebar hingga Rp6.250 per liter membuat banyak pemilik kendaraan kelas menengah memilih beralih ke Pertalite demi menekan pengeluaran bulanan.

Dampaknya langsung terasa di sejumlah daerah.

Di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, antrean kendaraan didominasi oleh pemburu Pertalite pasca-kenaikan harga Pertamax yang melonjak menjadi Rp16.650 per liter di wilayah tersebut.

Sementara itu, stok BBM di Kabupaten Aceh Tenggara dilaporkan tidak stabil hingga menyebabkan kekosongan di beberapa titik SPBU.

Berita Terkait