Bungko News – Nusantara menyimpan ribuan kepingan sejarah kebesaran masa lalu yang tak lekang oleh waktu.
Di jazirah utara Pulau Sulawesi, tepatnya di tanah Totabuan, berdiri sebuah peradaban besar yang jejaknya masih dihormati hingga hari ini: Kerajaan Bolaang Mongondow.
Jika kita memutar kembali jarum jam untuk mencari akar dari kebesaran kerajaan ini, satu nama akan selalu menggemah dengan penuh karisma, yakni Mokodoludut.
Mokodoludut bukanlah sekadar tokoh sejarah biasa.
Ia adalah Punu' (Raja) pertama, sang pemersatu klan-klan yang tercerai-berai, sekaligus fondasi awal dari dinasti Kerajaan Bolaang Mongondow.
Kisah hidupnya merupakan perpaduan antara catatan historis yang mengagumkan dan tradisi lisan yang penuh dengan nilai-nilai mistis nan filosofis.
Meluruskan Catatan Waktu Sejarah
Dalam beberapa perbincangan awam, sering kali muncul miskonsepsi yang menyebutkan bahwa Mokodoludut mendirikan kerajaan pada abad ke-17.
Pandangan ini perlu diluruskan.
Berdasarkan kajian literatur sejarah dan silsilah kerajaan, eksistensi Mokodoludut sebagai Punu' Molantud (pemimpin tertinggi) diperkirakan terjadi jauh lebih awal, yakni pada rentang abad ke-13 hingga awal abad ke-15 (sekitar tahun 1280 M hingga 1400 M).
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi pada abad ke-17?
Abad tersebut merupakan fase krusial kelanjutan dinasti Mokodoludut.
Pada rentang waktu 1600-an itulah keturunan Mokodoludut, seperti Punu' Tadohe (memerintah sekitar 1608-1644) dan putranya Loloda Mokoagow yang bergelar Datu Binangkang (memerintah 1644-1694), membawa Kerajaan Bolaang Mongondow ke puncak kejayaan politik maritim sekaligus berhadapan dengan era kolonialisme VOC.
Oleh karena itu, menempatkan Mokodoludut pada abad ke-13 hingga ke-15 adalah langkah yang tepat untuk memahami bagaimana fondasi kerajaan ini dibangun dari nol, jauh sebelum bangsa Eropa menancapkan kuku kekuasaannya di tanah Minahasa dan Mongondow.
Kisah Mistis di Kaki Gunung Keramat Bumbungon
Sejarah lisan (folklore) masyarakat Bolaang Mongondow menceritakan asal-usul Mokodoludut dengan balutan kisah supranatural yang kaya akan makna budaya.
Semuanya bermula di sebuah wilayah yang kini dikenal sebagai Dumoga, tepatnya di kaki Gunung Keramat Bumbungon.