Kejaksaan Agung resmi membongkar rahasia dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) Jika ada lomba "Paling Kreatif dalam Menyusun Modus Penipuan", ketiga bos BGN ini pasti masuk nominasi
Kejaksaan Agung resmi membongkar rahasia dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di balik cita-cita membangun generasi sehat dengan anggaran triliunan rupiah, ternyata ada "lauk pauk" lain yang lebih menggiurkan—setidaknya bagi para petinggi Badan Gizi Nasional (BGN) yang terjerat kasus korupsi.
🍲 Isi Piring Anak, Isi Rekening Bos: Insentif "Harian" Bikin Melongo
Badan ini memang bernama BGN, tapi sepertunya ada tafsir lain yang lebih jitu: Bagi-bagi Gaji Ngawur Nasional.
Bagaimana tidak, program yang dirancang untuk memenuhi gizi anak-anak sekolah bergulir dengan anggaran raksasa: Rp85,27 triliun pada 2025 dan Rp88 triliun pada 2026.
Namun, cairan bergizi itu tampaknya lebih deras mengalir ke kantong pribadi yang tidak berhak.
Sang jaksa dengan mimik datar tapi tegas mengungkapkan fakta yang membuat kepala geleng-geleng. "Yayasan-yayasan tersebut mendapatkan insentif miliaran rupiah tiap hari," ujar Direktur Penyidikan Jampidsus Kejagung, Syarief Sulaeman Nahdi, dalam konferensi pers di Kejagung, Rabu (3/6/2026) malam.
Yap, benar, MILIARAN RUPIAH PER HARI.
Gimana ceritanya? Kalau anak sekolah dapat lauk pauk lengkap, para petinggi ini dapat "insentif spesial" yang tak terbayang: sekitar Rp6 juta per hari per dapur MBG yang mereka atur.
Sebagai gambaran sederhana: dengan segitu, bisa ngopi di kafe setiap hari seumur hidup, plus bisa traktir satu RT.
Para tersangka yang dimaksud adalah: Dadan Hindayana (eks Kepala BGN), Sony Sonjaya (eks Wakil Kepala BGN Bidang Operasional), dan Lodewyk Pusung (eks Wakil Kepala BGN Bidang Pengembangan Organisasi dan Hubungan Kelembagaan).
Mereka resmi menduduki kursi pesakitan setelah ditahan oleh Kejaksaan Agung sejak Rabu (3/6/2026).
📉 Modus "Dapur Berasap": Dari Verifikasi Palsu sampai Belanja TV 75 Inci Tak Jelas
Jika ada lomba "Paling Kreatif dalam Menyusun Modus Penipuan", ketiga bos BGN ini pasti masuk nominasi.
Mereka tidak hanya sekadar korupsi, mereka membuat "rumah makan" sendiri dari program yang seharusnya untuk rakyat.
1. "Keluarga" atau Koperasi?
Kejagung mengungkap bahwa mekanisme pemilihan yayasan mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang semestinya transparan itu dimanipulasi total.
"Mereka melakukan pengaturan verifikasi pada portal mitra BGN dengan adanya atensi dari tersangka," jelas Syarief.
Singkatnya, meskipun yayasan yang diajukan tidak memenuhi syarat dan layak ditolak mentah-mentah, karena ada "restu" dari puncuk pimpinan BGN, semua jadi lancar jaya.
"Yayasan-yayasan yang ditunjuk sebagai mitra SPPG merupakan yayasan yang dijadikan sarana untuk kejahatan dan terafiliasi dengan pejabat atau pegawai BGN yang tidak memenuhi syarat untuk menjadi mitra SPPG," tambahnya tegas.
Kejagung menyebutkan bahwa yayasan-yayasan tersebut terafiliasi dengan ketiga tersangka.
Alih-alih program rakyat, mereka justru mengalirkan insentif miliaran rupiah per hari ke bisnis keluarga sendiri.
Bravo! Program pemberantasan stunting, eh malah budak-budak korupsi.
2. Belanja Nyeleneh: Motor Listrik, Sepatu, Tablet—Lalu TV 75 Inci buat Anak SD?
Jika ada yang bertanya, "Apa sih hubungan Makan Bergizi Gratis dengan Televisi 75 Inci?" Maka tiga tersangka ini mungkin akan menjawab: "Ya biar anak-anak nonton sinetron sambil ngemil, Pak Jaksa."
Itu bukan anekdot lucu, itu fakta pengadaannya.
Kejagung menemukan empat pengadaan barang yang notabene tidak mendukung operasional MBG sama sekali dan diduga kuat terjadi mark-up harga.
-
Motor Listrik: Sebanyak 21.801 unit dengan total nilai Rp1 triliun. Logis? Apakah kurir MBG akan membagikan makanan dengan ngebut? Atau ini niatnya bikin Gojek-nya BGN?
-
Sepatu: 32.000 pasang sepatu. Eh, ini program makanan atau program sandang?
-
Tablet: Lebih dari 31.000 unit.
-
Televisi 75 Inci: 5.400 unit televisi berukuran raksasa. Untuk pelajaran memasak dengan layar lebar?
"Ini jelas tidak sesuai dengan kebutuhan. Nilai mark-up-nya pun sedang didalami," tegas Kejagung.
Negara benar-benar bengis dirugikan akibat kebutaan pimpinan BGN terhadap fungsi pokok program mereka sendiri.
💰 Antara "Insentif Rp6 Juta" dan "Miliaran": Apakah Orang Lapar Mendapat Cuan?
Perlu dicatat, secara prosedur sebelumnya, BGN memang memberi insentif Rp6 juta per hari untuk setiap dapur SPPG sebagai "kompensasi kesiapan fasilitas".
Namun, bedanya terletak pada akal sehat.
Anggaran yang melimpah itu seharusnya jatuh ke pengelola yang benar, bukan ke dalam saku bos BGN sendiri.
Dengan memanipulasi verifikasi, para tersangka yang seharusnya menjadi gatekeeper (penjaga gawang) program ini justru berganti peran menjadi striker pencetak gol, menendang rakyat dan merangsek masuk sendiri.
🛡️ Pembersihan di BGN: "Beres-beres" Ala Bos Baru
Kabar baiknya, di tengah panasnya kasus ini, langit pun berganti warna.
Presiden Prabowo Subianto telah mencopot ketiga petinggi BGN tersebut.
Posisi Kepala BGN kini dipegang oleh Nanik S Deyang——dan dia langsung sibuk seperti ibu-ibu yang baru sadar rumahnya kotor parah.
Dalam konferensi pers, Nanik membeberkan langkah-langkah "shock therapy" untuk BGN:
-
Moratorium Dapur MBG (SPPG). Artinya, stop pembangunan dapur MBG baru dulu. Dengan kata lain: "Jangan tambah kacau lagi, yang sudah ada ini dulu kita sidik."
-
Tutup yang Nakal. "Bila dapur itu tidak sesuai, tentu kami akan lakukan suspend," tegas Nanik. Sekarang giliran yayasan-yayasan 'hoki' yang mulai ketar-ketir.
"Kami akan beresin dulu ini. ... Sudah, moratorium," pungkasnya.
Sebuah angin segar yang terasa dingin di tengah "kebakaran dapur" korupsi BGN.
💬 Kesimpulan Singkat: Selera Rakyat Dikhianati
Kasus ini bukan hanya soal angka kerugian triliunan, tapi tentang pengkhianatan.
Anak-anak yang seharusnya mendapatkan nutrisi untuk tumbuh pintar justru dikorbankan demi proyek gila membeli TV 75 Inci.
Program Makan Bergizi Gratis berubah paradigma menjadi Program Makan Bergizi Gratis Buat Para Bos.
Kini, selagi Dadan cs menikmati "menu tahanan" di Rutan Salemba Kejagung, para penegak hukum dan publik patut mengawal agar kasus ini tak berhenti di pucuk, tetapi terus mengarah hingga ke sponsor-sponsor nakal di balik yayasan.
Karena saat rakyat disuguhi skandal semacam ini, apapun sisa selera makannya pasti muntah sekalian.
Rasanya terlalu pahit!