Jika Sony terbukti sebagai "otak" di balik kasus ini, maka status JC-nya otomatis tertutup.
Ahli hukum pidana dari Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar, dengan sinis menjelaskan bahwa peluang Sony menjadi JC akan tertutup jika ia terbukti menjadi pelaku utama. "Kecuali yang dia akan buka (keterlibatannya) kedudukannya di atas dia, atau setingkat menteri, presiden, atau wakil presiden," katanya.
Jadi, jika yang ia beberkan hanya sekelas camat, status JC-nya bakal hangus!
🗓️ Jadwal "Buka Laci": Pekan Depan!
Kapan ledakan ini terjadi? Menurut Krisna, surat permohonan JC akan dikirimkan ke Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) pada Senin (8/6/2026).
Artinya, pekan depan bisa jadi panggung pengadilan mulai panas.
Sony saat ini masih dalam keadaan syok dan menyesuaikan diri di sel tahanan.
Namun, ia mengaku siap untuk bekerjasama. "Pada waktunya nama-nama tokoh yang terlibat akan kita buka di pengadilan. Ini adalah itikad baik dari Pak Sony agar kasusnya transparan," tutup Krisna dengan nada diplomatis.
🎬 Closing: Hiburan Paling Mahal di Indonesia
Jadi, siapkan camilan dan pop corn.
Kasus yang awalnya adalah program sosial menyehatkan rakyat dengan dana triliunan, kini berubah menjadi sinetron kejar-kejaran dengan aktor-aktor utama dari panggung kekuasaan.
Siapa saja nama-nama yang akan dibeberkan? Jangan-jangan ada yang ikutan belanja TV 75 inci buat nonton Netflix di ruang rapat!
Yang jelas, Justice Collaborator ini bukan hak istimewa gratis.
Jika Sony gagal membuktikan bahwa ia bukan "dalang" di balik mark-up motor listrik Rp1 triliun dan pembelian sepatu 32.000 pasang, maka jalannya masih panjang menuju sel tahanan.
Tapi jika berhasil, kita semua akan mendapat jawaban atas pertanyaan besar: Siapa sebenarnya yang paling lapar di negara ini — anak-anak sekolah atau kantong para pejabat? Tunggu update-nya pekan depan!