Jika kompetensi guru telah mumpuni, pemerintah tidak menutup kemungkinan menjadikan AI dan coding sebagai mata pelajaran wajib di kemudian hari.
1.3 Pembelajaran Koding dengan Pendekatan Inklusif
Untuk memastikan implementasi yang inklusif sesuai kondisi sekolah yang beragam, pembelajaran coding dikembangkan melalui tiga klasifikasi pendekatan:
-
Coding unplug – pembelajaran tanpa komputer
-
Coding berbasis internet – pembelajaran dengan akses daring
-
Coding berbasis permainan – gamifikasi tanpa komputer
Strategi ini memungkinkan sekolah di daerah dengan keterbatasan infrastruktur tetap dapat mengajarkan keterampilan komputasional kepada siswanya.
1.4 Revitalisasi Sekolah dan Digitalisasi Berkelanjutan
Program revitalisasi sekolah dan digitalisasi akan terus berlanjut pada tahun 2026 untuk meningkatkan kualitas pembelajaran secara merata di seluruh Indonesia.
Pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar Rp14 triliun (sekitar US$814 juta) untuk program revitalisasi sekolah tahun 2026, yang mencakup 11.744 sekolah di seluruh nusantara, dengan fokus pada sekolah terdampak bencana, sekolah di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar), serta sekolah dengan kerusakan berat.
Pemerintah juga berencana menambah jumlah penerima Program Indonesia Pintar (PIP) hingga sekitar 19,6 juta siswa, termasuk untuk pertama kalinya mencakup sekitar 888 ribu siswa taman kanak-kanak.
2. Infrastruktur Digital: Interactive Flat Panel (IFP) sebagai Ujung Tombak Digitalisasi
Salah satu langkah paling nyata dalam digitalisasi pendidikan adalah distribusi Interactive Flat Panel (IFP) atau papan tulis interaktif digital.
Pemerintah telah mendistribusikan 288.865 unit IFP ke satuan pendidikan di seluruh Indonesia pada tahun 2025.
IFP berupa layar besar 4K dengan teknologi touchscreen yang berfungsi sebagai papan tulis digital sekaligus proyektor all-in-one.
Program ini diluncurkan secara resmi oleh Presiden Prabowo Subianto pada 17 November 2025 dengan harapan dapat mendukung proses belajar siswa agar lebih efektif dan membuka akses lebih luas terhadap beragam pengetahuan.
“Alhamdulillah panel ini kita harapkan untuk bisa membantu semua siswa di seluruh Indonesia untuk belajar lebih baik, belajar lebih semangat.
Belajar lebih cepat, punya akses kepada semua ilmu, semua bahan yang diperlukan,” ujar Presiden Prabowo.
Berdasarkan penelitian, keberadaan IFP terbukti efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah sekaligus memotivasi semangat belajar siswa.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Dr. Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa kunci keberhasilan pemanfaatan sarana digital ini ada pada gurunya.
Pemerintah saat ini berfokus pada peningkatan kualitas guru melalui program sertifikasi PPG untuk 150.000 calon guru serta program beasiswa bagi guru yang belum S1/D4.
Pada tahun 2026, pemerintah berencana meningkatkan jumlah IFP menjadi dua hingga tiga unit per sekolah, meningkat dari alokasi sebelumnya, untuk semakin memperkuat ekosistem pembelajaran digital.