Cerita di dunia persilatan proyek pemerintahan kadang lebih absurd dari skenario film komedi 801 unit sepeda motor listrik senilai Rp1,03 triliun dari vendor yang nyatanya tidak punya dealer atau bengkel aktif Tags: Yayasan Yayasan
Cerita di dunia persilatan proyek pemerintahan kadang lebih absurd dari skenario film komedi.
Buktinya, di kasus dugaan korupsi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), terungkaplah sebuah "inovasi" yang belum pernah ada sebelumnya: menggelembungkan anggaran dengan membeli 21.801 unit sepeda motor listrik senilai Rp1,03 triliun dari vendor yang nyatanya tidak punya dealer atau bengkel aktif.
Seperti mau beli nasi padang ke warung tapi penjualnya bahkan tak punya rice cooker!
🛵 Skenario Gila: Dari "Mobile Dapur" Jadi "Motor Pribadi Bos"
Kejaksaan Agung baru saja membuka semua kartu yang tadinya dikocok rapi oleh tiga mantan petinggi Badan Gizi Nasional (BGN): sang eks Kepala, Dadan Hindayana, dan dua wakilnya, Sony Sonjaya serta Lodewyk Pusung.
Mereka resmi menduduki kursi pesakitan dan menjalani penahanan di Rutan Salemba sejak Rabu (3/6/2026) malam.
Yang membuat geleng-geleng kepala bukan hanya angka kerugiannya, tetapi kreativitas modus operandi-nya.
Bayangkan:
-
Perencanaan Akal-akalan: Mereka tidak hanya sekadar menunjuk yayasan abal-abal yang terafiliasi sebagai pelaksana program MBG. Mereka juga melakukan intervensi kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) saat menyusun Kerangka Acuan Kerja (KAK). Hasilnya, kebutuhan pengadaan jadi berantakan dan jauh dari kebutuhan riil di lapangan.
-
Motor "Anti Mogok"? Sengaja Mogok Sistem: Salah satu barang yang dibeli dengan anggaran melimpah adalah motor listrik. Bukan satu atau dua, tapi 21.801 unit. Nilainya? Segar! Rp1.035.515.297.908,02 (dibulatkan Rp1,03 triliun). Uang itu dengan mantap ditransfer ke PT YAT..
-
Vendor "Gaib" Tanpa Bengkel: Kalau Anda pikir mereka memilih dealer motor besar dengan jaringan bengkel di seluruh Indonesia, Anda salah besar. Kejagung mengungkap fakta yang membuat keok para komedian: PT YAT, vendor terpilih, ternyata tidak memiliki dealer atau bengkel aktif sama sekali!.
Direktur Penyidikan Jampidsus Kejagung, Syarief Sulaeman Nahdi, dibuat geli sekaligus kesal menjelaskannya: "Pengadaan motor listrik itu sudah dibayarkan ke PT YAT, padahal yang bersangkutan tidak memenuhi syarat jadi vendor karena tidak punya dealer atau bengkel aktif. Di situ juga ada mark up," tegasnya dalam keterangan tertulis Jumat (5/6/2026).
📱 Kronologi Viral: Dari Protes Warganet hingga Kejagung Turun Tangan
Kasus gila ini sebenarnya sudah mulai tercium publik sejak April lalu.
Sebuah video dari akun TikTok @NOVIR007 viral memperlihatkan puluhan ribu motor listrik berlogo BGN di sebuah gudang.
Si pembuat video sampai heran: "Kira-kira ini buat semua karyawan atau cuma kepala dapur saja?".
Setelah video itu menyebar, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sampai mengakui kebobolan.
Di hadapan awak media, ia mengaku bahwa anak buahnya kelewat antusias merealisasikan rencana anggaran lama yang seharusnya sudah ditolaknya. "Seingat saya, saya tanya, sudah ditolak. Tapi ternyata sebagian sudah sempat lolos," ujarnya sambil garuk-garuk kepala tak enak.
Sementara itu, Dadan Hindayana yang saat itu belum menjadi tersangka masih sempat "pamer" di Istana.
Ia mengklaim bahwa motor listrik itu dibeli di bawah harga pasaran. "Harga pasaran Rp52 juta, tapi kita beli Rp42 juta," katanya dengan dada sedikit membusung.
...eh, tapi kok ujung-ujungnya malah menjadi tersangka?
📦 Bonus "Gratis": Sepatu, Tablet, dan TV 75 Inci (Tidak ada yang untuk Makanan!)
Salah satu nilai komedi dalam kasus ini adalah bagaimana program yang semestinya mengurus nutrisi anak negeri ini justru lebih antusias berbelanja barang elektronik dan alas kaki.
Kejagung mengungkap sejumlah pengadaan lain yang juga tak kalah absurdnya:
| Barang "Mendesak" | Jumlahnya | Catatan Humoris |
|---|---|---|
| Motor Listrik | 21.801 unit | Mungkin mereka salah paham, MBG dikiranya "Makanan Bergizi Gratis" diganti "Mobil Boros Gila"? |
| Sepatu | 32.000 pasang | Proyeknya pemberian makanan, tapi sasarannya para 'atlet lari' yayasan? |
| Tablet | 31.994 unit | Agar anak-anak SD bisa main Mobile Legends sambil menunggu makanan bergizi? |
| Televisi 75 Inci | 5.400 unit | Untuk nonton sinetron sambil makan? Atau agar petugas SPPG bisa review makanan dalam layar raksasa? |
Juru bicara Kejagung, Jeffry, menyebut semuanya sudah terealisasi dan diduga kuat ada praktik mark-up pada setiap item di atas.
💸 Bukan Makan Gratis, Tapi Raup Cuan Miliaran!
Sebelum resmi dijebloskan ke dalam sel tahanan, ketiga tersangka ini dan para koleganya telah makmur luar biasa.
Kejagung menemukan bahwa yayasan-yayasan yang ditunjuk sebagai mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) merupakan sarang kejahatan, khususnya bagi para pejabat BGN sendiri.
Mereka yang terafiliasi dengan pejabat BGN itu mendapatkan insentif miliaran rupiah setiap hari!.
Bukan per bulan, bukan per minggu, tapi SETIAP HARI! Dengan pendapatan sekencang itu, mungkin mereka sampai bingung cara belanjanya.
Jadi, masuk akal jika kemudian mereka memutuskan untuk membeli TV 75 inci meskipun tujuannya tidak jelas.
🚔 Akhir Cerita: Sang Komedian di Rutan Salemba
Kisah absurd ini kini berakhir di bilik-bilik dingin Rumah Tahanan.
Ketiga tersangka dijerat dengan pasal berlapis: Pasal 603 dan 604 juncto Pasal 20 KUHP Baru, juncto UU Tipikor.
Penahanan pertama mereka berlaku 20 hari ke depan dengan ancaman hukuman yang pantas.
Posisi Kepala BGN yang baru, Nanik S. Deyang, bergerak cepat bak nyamuk kena obat nyamuk: langsung moratorium pembangunan dapur SPPG baru dan mengancam akan mensuspend dapur yang bermasalah.
🎤 Closing: Ini Pahit, Bukan Manis!
Program MBG semestinya jadi proyek kemanusiaan, bukan proyek bisnis keluarga atau tempat cuci uang.
Dengan terungkapnya fakta bahwa vendor motor listrik saja tidak punya bengkel, kita bisa menarik kesimpulan sendiri: inilah korupsi ala kadarnya versi very high class.
Harapannya, setelah para tersangka menikmati "menu spesial" di rutan, publik dan aparat penegak hukum tetap mengawal kasus ini sampai ke anak-cucu di balik yayasan-yayasan aneh itu.
Karena jika tidak, bisa saja ke depannya ada program bernama "Makan Siang Gratis" tapi anggarannya malah dipakai beli pesawat jet pribadi bos.
Selamat tertawa miris, rakyat Indonesia.
Tawa pahit yang terbaik adalah yang muncul setelah mengetahui bahwa uang Rp1 triliun itu milik Anda juga!