JAKARTA – Pemerintah tengah menggodok skema baru tunjangan pensiun PNS yang memungkinkan pensiunan memilih antara menerima Rp 1 miliar sekaligus (lump sum) atau Rp 20 juta per bulan (anuitas).
Keputusan ini akan berdampak signifikan pada kesejahteraan pensiunan, terutama dalam mengelola keuangan jangka panjang.
Lantas, mana yang lebih menguntungkan? Simak ulasan lengkap berdasarkan aturan terbaru dan perhitungan dari sumber resmi.
Pilihan Sekaligus atau Bulanan, Apa Bedanya?
Saat ini, pembayaran dana pensiun di Indonesia diatur dalam POJK Nomor 27 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Usaha Dana Pensiun.
Peserta pensiun bisa memilih untuk menerima manfaat pensiun secara sekaligus atau dicicil bulanan (anuitas) dengan periode minimal 10 tahun.
Dilansir dari Bisnis.com (8/9/2024), Direktur Eksekutif Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Syarif Yunus menjelaskan, jika saldo manfaat pensiun di atas Rp500 juta hingga Rp1,5 miliar, peserta dapat membeli produk anuitas dari perusahaan asuransi jiwa untuk pembayaran berkala.
Alternatifnya, sebagian bisa diambil langsung dan sisanya dicicil.
Contoh perhitungan: Jika dana pensiun Rp800 juta, maka 20% (Rp160 juta) bisa diambil sekaligus, dan 80% (Rp640 juta) dibayarkan bulanan selama 10 tahun (120 bulan), sehingga peserta menerima Rp5,3 juta per bulan.
Besaran ini bisa bertambah karena dana pokok tetap diinvestasikan.
Rp 1 Miliar Sekaligus vs Rp 20 Juta per Bulan
Berdasarkan skema tersebut, mari kita analogikan dengan opsi Rp 1 miliar sekaligus atau Rp 20 juta per bulan:
1. Opsi 1: Rp 1 Miliar Sekaligus (Lump Sum)
Pensiunan menerima seluruh dana dalam satu kali transfer.
Keuntungannya, dana bisa langsung digunakan untuk investasi, membuka usaha, atau memenuhi kebutuhan besar seperti membeli rumah.
Namun, risikonya tinggi: jika tidak dikelola dengan bijak, dana bisa habis dalam waktu singkat, terutama jika tidak ada penghasilan lain setelahnya.
2. Opsi 2: Rp 20 Juta per Bulan (Anuitas)
Pensiunan menerima Rp 20 juta setiap bulan selama periode tertentu (misal 10–25 tahun).
Keuntungannya, pendapatan stabil dan terjamin, membantu mengelola cash flow bulanan tanpa khawatir dana habis.
Namun, jika pensiunan butuh dana besar untuk keperluan mendadak, opsi ini kurang fleksibel.
Hitung Kasar: Mana Lebih Menguntungkan?
Jika mengacu pada contoh perhitungan di atas (dengan asumsi dana pokok diinvestasikan dan memberikan imbal hasil):
Jika Rp 1 miliar diinvestasikan dengan imbal hasil rata-rata 5% per tahun, maka dalam 10 tahun, dana bisa bertambah menjadi sekitar Rp 1,6 miliar. Namun, jika pensiunan mengambil Rp 20 juta per bulan, dalam 10 tahun total yang diterima mencapai Rp 2,4 miliar (tanpa memperhitungkan imbal hasil dari investasi anuitas).
Namun, jika pensiunan memilih anuitas Rp 20 juta per bulan selama 20 tahun, totalnya Rp 4,8 miliar—jauh lebih besar dari Rp 1 miliar sekaligus.
Faktor Penentu: Usia, Kebutuhan, dan Inflasi
Keputusan antara lump sum atau anuitas sangat bergantung pada:
1. Usia saat pensiun dan harapan hidup: Jika pensiunan masih relatif muda dan punya potensi hidup lebih lama, anuitas memberikan keamanan jangka panjang. 2. Kebutuhan likuiditas: Jika butuh modal besar untuk usaha atau investasi, lump sum lebih cocok. 3. Inflasi: Anuitas dengan nilai tetap bisa tergerus inflasi, sehingga daya belinya menurun dari tahun ke tahun.Arah Kebijakan Pemerintah
Rencana pemerintah beralih ke skema 'fully funded'—di mana iuran pensiun dihitung dari take home pay (THP), bukan hanya gaji pokok.
Dengan skema ini, dana pensiun yang dikumpulkan lebih besar, sehingga manfaat pensiun bisa lebih signifikan.
Hal ini diungkapkan oleh Kepala BKN Bima Haria dan mantan MenPAN RB Asman Abnur, seperti dilansir CNBC Indonesia (16/10/2021).
Tidak ada jawaban mutlak mana yang lebih baik antara Rp 1 miliar sekaligus atau Rp 20 juta per bulan.
Jika Anda lebih membutuhkan keamanan dan pendapatan stabil, anuitas adalah pilihan tepat.
Namun, jika Anda percaya diri mengelola dana besar untuk investasi atau usaha, lump sum bisa memberikan kebebasan finansial lebih besar.
Pastikan berkonsultasi dengan perencana keuangan atau ahli pensiun sebelum memutuskan, agar pilihan benar-benar sesuai dengan kondisi dan tujuan keuangan pribadi. ***
