Fakta menarik: Pendiri IKEA, Ingvar Kamprad, dikenal masih mengendarai Volvo lawas berumur 15 tahun.
Ia tidak perlu mobil mewah untuk membuktikan kekayaannya.
3. Pakaian Bermerek Mencolok (Logomania)
Orang dengan kantong tipis sering rela merogoh 2-3 bulan gaji untuk membeli tas atau sepatu dengan logo besar desainer ternama.
Tujuannya? Agar dilihat orang lain.
Ironisnya, barang tersebut sering dipakai hanya di akhir pekan atau saat acara tertentu—sisanya disimpan rapi di lemari.
Sikap orang kaya: Mereka lebih menyukai pakaian no-logo, bahan berkualitas, dan potongan yang rapi.
Mereka membeli karena kenyamanan dan ketahanan, bukan karena merek.
Bahkan banyak miliarder yang rutin membeli pakaian di toko ritel biasa seperti Uniqlo atau Decathlon.
Kutipan: "Orang kaya tidak perlu pamer. Kekayaan mereka terlihat dari pilihan investasi, bukan dari logo di dadanya."
4. Pernikahan Super Mewah dengan Utang di Mana-mana
Fenomena "pernikahan sekali seumur hidup" sering menjadi dalih untuk menggelar resepsi dengan dekorasi megah, katering mahal, dan undangan serba mewah.
Padahal, dana berasal dari pinjaman bank, koperasi, atau orang tua yang juga pas-pasan.
Setelah resepsi selesai, pasangan baru memulai hidup dengan utang puluhan hingga ratusan juta.
Sikap orang kaya: Mereka cenderung menggelar pernikahan sederhana, intim, dan bermakna.
Banyak pengusaha sukses yang lebih memilih akad nikah di masjid dengan keluarga dekat, lalu pesta kecil di rumah.
Mereka lebih mengutamakan investasi untuk masa depan keluarga (rumah, pendidikan anak, dana darurat) daripada pesta satu malam.
Data: Studi menunjukkan bahwa semakin rendah tingkat ekonomi, semakin besar proporsi pendapatan yang dihabiskan untuk pesta pernikahan.
Sebaliknya, miliarder sering menikah dengan diam-diam atau bahkan tanpa pemberitaan.
5. Barang Elektronik "Premium" yang Tidak Terpakai Optimal
Mesin kopi espresso seharga 7 juta, smart TV 65 inci, soundbar Dolby Atmos, atau kulkas dengan layar sentuh.
Barang-barang ini sering dibeli dengan skema paylater atau kartu kredit, padahal penghasilan bulanan pas-pasan.
Akhirnya, barang tersebut hanya menjadi pajangan mewah di rumah kontrakan sempit.
Sikap orang kaya: Mereka membeli barang elektronik berdasarkan fungsi dan frekuensi penggunaan.
Jika jarang minum kopi spesialto, mereka cukup pakai French press Rp200 ribu.