Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak sekolah di China terkait klaim tersebut.
Viralnya unggahan ini langsung memicu polarisasi opini di kolom komentar.
Hingga Jumat (29/5/2026) malam, postingan tersebut telah mendapatkan lebih dari 2.700 tanda suka dan lebih dari 220 komentar dari warganet yang beragam.
Sebagian warganet menganggap cara tersebut kreatif dan efektif, namun tak sedikit pula yang mengkritik tajam dengan alasan bahwa motivasi belajar seharusnya tidak bergantung pada penampilan fisik guru.
Berikut adalah beberapa komentar netizen yang mencerminkan perdebatan tersebut:
| Reaksi | Kutipan Komentar | Akun |
|---|---|---|
| Kritik Moral | "Indo tambah semangat, moral tambah rusak." | @bekti.sudrajat.779 |
| Sindiran Halus | "Wah berarti bener ya ‘Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China’." | @fikrirhamadan24 |
| Candaan & Sindiran | "Kalau di Indo bukan cuma murid yang rajin tapi bapak murid juga pasti tiap hari modus anter jemput anaknya walaupun anaknya udah dewasa." | @happyfamilyshop15 |
| Dukungan | "Kalau begini tiap hari, jangankan bolos, datang paling pagi." | Akun netizen lainnya |
Di tengah viralnya konten seperti ini, penting untuk melihat sisi lain dari upaya pencegahan bolos sekolah.
Berbagai lembaga pendidikan di Indonesia, misalnya, justru mengembangkan inovasi yang fokus pada sistem dan proses, bukan pada penampilan guru.
Berdasarkan praktik baik yang dihimpun, langkah preventif yang utama dan paling efektif sebenarnya adalah menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan serta inklusif bagi seluruh peserta didik tanpa terkecuali.
Selain itu, transparansi informasi dan komunikasi intensif dengan orang tua terbukti efektif untuk mempersempit ruang gerak siswa membolos.
Sebagai contoh nyata, beberapa sekolah telah mengadopsi teknologi untuk mengatasi masalah ini.
Madrasah Aliyah (MA) Al Furqon di Pangandaran, misalnya, meluncurkan inovasi 'Barcode Anti Bolos' pada pertengahan April 2026.
Sistem ini memaksa setiap pelajar untuk melakukan pemindaian kode unik saat tiba maupun ketika hendak meninggalkan lingkungan sekolah, sehingga orang tua dapat memantau anak mereka secara real-time.
Fenomena viral ini menyentuh pertanyaan mendasar: Di mana batas antara pendekatan kreatif dan komodifikasi profesi guru? Di satu sisi, kekhawatiran publik bahwa metode seperti ini “menjadikan penampilan guru sebagai ‘alat’ untuk menarik minat siswa datang ke sekolah” adalah kritik yang valid.