PONTIANAK, KALIMANTAN BARAT - Sebuah video menyayat hati viral di media sosial menggambarkan penderitaan anak-anak akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Video yang diunggah ulang oleh akun Instagram @dj_donny dengan judul "Rintihan Derita Anak Korban Karhutla Bertahan Hidup di Tengah Asap" menampilkan balita dengan mata merah berair, demam dengan kompres di dahi, menangis sesak, dan kesulitan bernapas.
Video asli dari @dion_wahyu dengan keterangan "kondisi asap Kalimantan Pontianak sekarang" tersebut menuliskan deskripsi singkat yang menjadi jeritan banyak orang tua: "Batuk, pilek, sesak napas".
/Dalam narasi yang ditampilkan Berita 61, disebutkan:
Saat udara bersih berubah menjadi racun mematikan bagi masa depan anak-anak di bumi pertiwi. Kebakaran hutan dan lahan merampas hak hidup sehat jutaan jiwa di berbagai wilayah terdampak.
Bukan Sekadar Bencana Lingkungan, Tapi Darurat Kesehatan Anak
Dampak karhutla tahun ini kembali meluas.
Situasi merebak di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, serta Kalimantan Barat.
Eskalasinya bahkan memicu ASEAN menetapkan status Siaga Alert Level 3 sejak 26 Agustus 2026.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat lonjakan signifikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA):
- Di Kalimantan Barat saja, tercatat lebih dari 151 ribu kasus ISPA sejak Januari 2026, dengan lonjakan tertinggi di Pontianak, Kubu Raya, dan Mempawah. Data terbaru per awal Agustus menyebut angka mencapai 165.747 kasus.
- Secara nasional di 7 provinsi terdampak (Jambi, Riau, Sumsel, Kalbar, Kalteng, Kalsel, Kaltim), Kemenkes mendata 113.336 kasus ISPA akibat karhutla hingga 9 September 2026. Dari keseluruhan data tersebut, sebanyak 26.545 kasus menyerang kelompok balita.
- Pada periode 18 Agustus hingga 21 September 2026, angka melonjak menjadi 174.694 kasus ISPA, dengan 40.363 korban di antaranya merupakan anak-anak usia balita.
RS Bhayangkara Pontianak sebagai rumah sakit rujukan di Kalbar mencatat kenaikan pasien ISPA dan pneumonia sebesar 10 hingga 20 persen sejak karhutla meluas.
Dampaknya merembet ke sektor pendidikan.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak telah menerbitkan surat edaran yang meminta siswa TK, PAUD, SD, dan SMP untuk tidak mengikuti pembelajaran tatap muka dan dialihkan ke sistem daring.
Kandungan Racun PM2.5 Ancam Paru Balita
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan:
"Karhutla bukan sekadar bencana lingkungan, tetapi juga darurat kesehatan anak dan kelompok rentan"
Ancaman utamanya adalah partikel halus PM2.5.
Ketua UKK Respirologi IDAI, dr Wahyuni Indawati menjelaskan, "PM2.5 dari asap kebakaran hutan dapat hingga 10 kali lebih berbahaya bagi pernapasan anak dibanding PM2.5 dari sumber lain karena komposisi kimianya memiliki potensi oksidasi dan pro-inflamasi yang lebih tinggi".
Riset meta-analisis menunjukkan setiap penambahan 10 µg/m3 PM2.5 kebakaran hutan berhubungan dengan peningkatan 6 persen rawat inap asma dan 7 persen kunjungan IGD terkait asma.
Balita berisiko tinggi karena menghirup volume udara lebih banyak dibanding berat badannya sementara organ paru masih berkembang.
Jeritan yang Berulang
Seperti yang tertulis di akhir video tersebut:
Jeritan bayi dan rintihan orang tua menjadi saksi bisu atas bencana ekologis yang terus berulang. Ini bukan sekadar persoalan lingkungan... melainkan krisis kemanusiaan yang menuntut pertanggungjawaban hukum secara transparan.
Di kolom komentar video-video serupa, para ibu di Pontianak hingga Palangkaraya berbagi cerita anak harus masuk IGD, menjalani perawatan pneumonia, hingga air purifier di rumah menunjukkan angka 400 - jauh di atas ambang berbahaya.
Kemenkes menyatakan telah memobilisasi ratusan tenaga kesehatan dan memperkuat puskesmas rujukan, namun warga berharap ada penegakan hukum yang jelas terhadap pembakar lahan agar siklus tahunan ini tidak terus memakan korban yang tak berdosa.