Lifestyle

Work-Life Balance Lebih Berharga dari Gaji Tinggi, Studi Buktikan Pengaruhnya 46,8% terhadap Kepuasan Kerja

Diperbarui 0 5 mnt baca 961 kata 3 halaman
Work-Life Balance Lebih Berharga dari Gaji Tinggi, Studi Buktikan Pengaruhnya 46,8% terhadap Kepuasan Kerja
Work-Life Balance Lebih Berharga dari Gaji Tinggi, Studi Buktikan Pengaruhnya 46,8% terhadap Kepuasan Kerja — Fenomena ini...

Bungko NewsDalam dunia kerja modern yang serba kompetitif, angka gaji kerap menjadi ukuran utama kepuasan kerja.

Namun, data dan penelitian di lapangan menunjukkan bahwa bukan hanya soal besaran rupiah yang membuat seorang karyawan bertahan puluhan tahun hingga masa pensiun.

Ada faktor-faktor non-finansial lain yang terbukti memiliki pengaruh lebih signifikan dalam membangun loyalitas jangka panjang.

Fenomena ini kian relevan di tengah tingginya tingkat turnover di berbagai sektor.

Banyak karyawan, terutama Generasi Z dan milenial, memilih keluar bukan karena tawaran gaji lebih besar, melainkan karena ketidakcocokan budaya, kepemimpinan, atau minimnya ruang pengembangan diri.

Artikel ini mengulas faktor-faktor utama yang membuat pekerja betah bertahan hingga usia pensiun, berdasarkan studi dan praktik terbaik di Indonesia.

1. Budaya Kerja yang Positif dan Sehat

Budaya organisasi berperan sebagai "lem" yang merekatkan karyawan pada perusahaannya.

Sebuah studi yang dilakukan di perusahaan manufaktur menunjukkan bahwa kepuasan kerja—yang sangat dipengaruhi oleh hubungan dengan atasan, rekan kerja, serta keseimbangan kehidupan kerja—terbukti menjadi prediktor terkuat dalam mempertahankan karyawan.

Sebaliknya, lingkungan kerja yang toksik, seperti adanya konflik internal, gosip, atau pola kepemimpinan yang tidak sehat, menjadi alasan utama lebih dari 30 persen karyawan memutuskan resign.

Penelitian lain mengonfirmasi bahwa lingkungan kerja yang positif dapat meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi tingkat absensi.

Bahkan, sebuah studi di PT TASPEN (Persero) menemukan bahwa tingkat "Supportive Work Environment" mencapai 79,1 persen, yang berkorelasi dengan lebih dari 64 persen karyawan milenial yang sudah bertahan lebih dari lima tahun, jauh melampaui masa kerja kritis pada umumnya.

Hal ini diperkuat oleh penghargaan HR Asia Best Companies to Work for in Asia 2025 yang diterima MAS Arya Indonesia.

Perusahaan ini berhasil mencatatkan tingkat turnover hanya 2 persen, jauh di bawah rata-rata industri pakaian jadi nasional.

Rajitha Kamalchandra, CEO MAS Arya Indonesia, menyatakan bahwa budaya kerja dibangun di atas nilai kepercayaan, keberagaman, dan kesejahteraan, agar setiap individu merasa bernilai dan berdaya.

Rahasianya adalah program Kaizen untuk inovasi, Gemba Walks untuk komunikasi dua arah, serta investasi besar dalam pengembangan kepemimpinan yang melibatkan lebih dari 115 karyawan sepanjang 2025.

Berita Terkait