Rabies merupakan penyakit yang perlu diwaspadai karena dapat menyerang hewan maupun manusia dan hampir selalu berakibat fatal setelah gejala muncul.
Mengenali ciri-ciri anjing yang terinfeksi sejak dini menjadi langkah penting untuk melindungi keluarga, hewan peliharaan, dan lingkungan sekitar.
Apa Itu Rabies?
Rabies atau yang sering dikenal sebagai penyakit anjing gila adalah penyakit menular akut yang menyerang sistem saraf pusat.
Penyakit ini disebabkan oleh virus dari golongan Lyssavirus.
Virus rabies dapat menular melalui air liur hewan yang terinfeksi, terutama melalui gigitan.
Penularan juga dapat terjadi melalui cakaran atau jilatan pada kulit yang terluka.
Menurut WHO, sekitar 99 persen kasus rabies pada manusia disebabkan oleh gigitan anjing.
Selain anjing, beberapa hewan lain seperti kucing, kera, dan kelelawar juga dapat menjadi pembawa virus rabies.
Risiko penularan lebih tinggi pada hewan liar maupun hewan peliharaan yang belum mendapatkan vaksinasi.
Masa Inkubasi Rabies pada Anjing
Gejala rabies pada anjing umumnya muncul sekitar 3 hingga 8 minggu setelah hewan terinfeksi.
Pada masa inkubasi, virus berada di sekitar lokasi gigitan sebelum kemudian bergerak menuju sistem saraf.
Waktu munculnya gejala bisa berbeda-beda.
Jika lokasi gigitan atau cakaran berada dekat dengan kepala, gejala dapat muncul lebih cepat karena jarak menuju sistem saraf lebih pendek.
Ciri-Ciri Anjing Rabies
Perubahan perilaku dan kondisi fisik dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan.
Beberapa ciri anjing yang dicurigai terinfeksi rabies antara lain:
1. Perubahan Perilaku Drastis
Anjing yang biasanya tenang bisa menjadi gelisah dan ketakutan.
Sebaliknya, anjing yang sebelumnya aktif dapat berubah menjadi pendiam, pemalu, lesu, atau tidak bersemangat.
2. Menjadi Lebih Agresif
Anjing yang terinfeksi dapat menjadi lebih agresif, galak, atau buas, bahkan terhadap pemilik yang sudah dikenal.
Kondisi ini berkaitan dengan gangguan pada sistem saraf akibat infeksi virus rabies.
3. Demam
Demam dapat menjadi salah satu tanda infeksi, namun tidak secara khusus menunjukkan rabies karena bisa muncul akibat berbagai penyakit lain.
4. Tidak Mau Makan
Pada fase awal, anjing yang terinfeksi dapat kehilangan nafsu makan dan terlihat tidak sehat, kondisi tubuh secara umum juga menurun.
5. Terus Menjilati atau Menggigit Lokasi Luka
Anjing menunjukkan rasa tidak nyaman di area yang sebelumnya mengalami gigitan atau cakaran dan terus menjilati atau menggigit bagian tersebut.
6. Kelesuan
Kelesuan yang tidak biasa juga dapat terlihat, meski lesu bukan tanda khusus rabies karena dapat disebabkan berbagai kondisi kesehatan lain.
7. Sering Menggigit dan Menggeram Tanpa Pemicu
Pada fase tertentu, anjing menjadi lebih agresif dan sering menggigit atau menggeram tanpa pemicu yang jelas, bahkan kepada benda maupun makhluk lain di sekitarnya.
8. Kelumpuhan pada Fase Lanjut
Ketika infeksi telah menyerang otak dan sumsum tulang belakang, anjing dapat mengalami kelumpuhan, disertai kesulitan menelan dan produksi air liur berlebihan hingga akhirnya menyebabkan kematian.
Tahapan Perkembangan Gejala Rabies pada Anjing
Secara umum, perkembangan gejala rabies berlangsung melalui tiga stadium:
1. Stadium prodromal (2-3 hari):
Anjing mengalami perubahan temperamen, kehilangan nafsu makan, demam ringan, dan terlihat tidak sehat.
2. Stadium eksitasi (3-7 hari):
Anjing menjadi sangat gelisah, mudah marah, agresif, serta sering menggigit atau menggeram tanpa alasan yang jelas.
3. Stadium paralisis:
Anjing mulai mengalami kelumpuhan otot dan kesulitan menelan, yang kemudian dapat berkembang hingga menyebabkan kematian.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Digigit Anjing yang Dicurigai Rabies?
Penanganan harus dilakukan secepat mungkin:
- Cuci luka menggunakan air mengalir dan sabun selama sekitar 10–15 menit.
- Setelah luka dibersihkan, gunakan antiseptik.
- Segera datangi fasilitas kesehatan terdekat untuk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut, termasuk kemungkinan pemberian vaksin anti-rabies (VAR) atau serum anti-rabies (SAR).
- Jika memungkinkan dan aman, anjing yang menggigit dapat diamankan untuk observasi oleh petugas terkait. Jangan mencoba menangkap atau menangani anjing agresif secara langsung.
Penanganan medis tidak sebaiknya ditunda hanya karena menunggu munculnya gejala.
Setelah paparan berisiko, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk menentukan tindakan pencegahan yang sesuai.
Cara Mencegah Rabies pada Anjing
Pencegahan dapat dilakukan dengan memastikan hewan peliharaan mendapatkan vaksinasi rabies secara rutin sesuai jadwal yang dianjurkan dokter hewan.
Selain itu, hindari kontak langsung dengan anjing liar atau hewan yang tidak dikenal.
Masyarakat juga sebaiknya melaporkan keberadaan anjing dengan perilaku mencurigakan kepada petugas kesehatan hewan setempat agar dapat ditangani secara aman.
Kesimpulan
Rabies merupakan penyakit berbahaya yang dapat menyerang sistem saraf dan hampir selalu berakibat fatal setelah gejala klinis muncul.
Perubahan perilaku, agresivitas, kehilangan nafsu makan, kelesuan, sering menggigit atau menggeram, hingga kelumpuhan dapat menjadi tanda yang perlu diwaspadai.
Tanda-tanda tersebut tidak selalu berarti anjing pasti terkena rabies.
Diagnosis perlu dilakukan oleh tenaga kesehatan hewan.
Pencegahan melalui vaksinasi serta penanganan medis sesegera mungkin setelah gigitan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko penularan.