Lifestyle

Tidur 8 Jam Tapi Tetap Lelah? Ini 7 Penyebab Tidur Tidak Berkualitas dan Cara Perbaikinya

Diperbarui 0 7 mnt baca 1,387 kata
Tidur 8 Jam Tapi Tetap Lelah? Ini 7 Penyebab Tidur Tidak Berkualitas dan Cara Perbaikinya
Tidur 8 Jam Tapi Tetap Lelah? Ini 7 Penyebab Tidur Tidak Berkualitas dan Cara Perbaikinya — Jika pernah mengalaminya, Anda...

Bungko News – Pernah tidur selama 8 jam, tetapi ketika bangun tubuh masih terasa berat, mata mengantuk, kepala kurang segar, dan rasanya ingin kembali ke tempat tidur? Jika pernah mengalaminya, Anda tidak sendirian.

Durasi tidur memang penting, tetapi lama tidur bukan satu-satunya penentu apakah tidur benar-benar berkualitas.

Seseorang bisa tidur 7–9 jam setiap malam, tetapi tetap merasa lelah jika tidurnya sering terbangun, terlalu banyak mengalami gangguan, atau tidak mendapatkan tahapan tidur yang cukup.

Tidur yang berkualitas membantu tubuh memulihkan energi, memperbaiki jaringan, mendukung sistem kekebalan tubuh, mengatur hormon, serta menjaga fungsi otak.

Sebaliknya, tidur yang tidak berkualitas dapat membuat tubuh terasa lemas dan konsentrasi menurun meskipun waktu tidur sudah cukup.

Lalu, apa penyebabnya?

1. Sering Terbangun di Tengah Malam

Salah satu penyebab paling umum tidur terasa tidak menyegarkan adalah sering terbangun pada malam hari.

Anda mungkin tidak selalu mengingat setiap kali terbangun.

Namun, gangguan tidur berulang dapat membuat tidur menjadi terfragmentasi sehingga tubuh tidak mendapatkan waktu pemulihan yang optimal.

Beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang sering terbangun antara lain:

  • Suhu kamar terlalu panas atau terlalu dingin.
  • Suara kendaraan, televisi, atau lingkungan sekitar.
  • Cahaya yang terlalu terang.
  • Keinginan buang air kecil.
  • Stres dan banyak pikiran.
  • Kebiasaan menggunakan ponsel sebelum tidur.
  • Konsumsi kafein terlalu dekat dengan waktu tidur.

Cara memperbaikinya

Buat lingkungan kamar lebih mendukung untuk tidur.

Usahakan kamar gelap, tenang, dan nyaman.

Gunakan penutup mata atau penyumbat telinga jika diperlukan.

Selain itu, hindari minuman berkafein menjelang malam dan kurangi konsumsi cairan dalam jumlah besar sesaat sebelum tidur.


2. Sleep Apnea atau Gangguan Pernapasan Saat Tidur

Tidur cukup tetapi tetap sangat mengantuk pada siang hari juga dapat menjadi tanda adanya gangguan pernapasan saat tidur, salah satunya sleep apnea.

Pada sleep apnea, pernapasan dapat berhenti dan kembali berulang kali selama tidur.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan seseorang terbangun berulang kali tanpa selalu menyadarinya.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Mendengkur keras.
  • Terbangun seperti tersedak atau kehabisan napas.
  • Mulut terasa kering ketika bangun.
  • Sakit kepala pada pagi hari.
  • Mengantuk berat pada siang hari.
  • Sulit berkonsentrasi.
  • Pasangan tidur melihat adanya jeda napas saat tidur.

Cara memperbaikinya

Jika Anda mengalami beberapa tanda tersebut, jangan hanya mengandalkan perubahan kebiasaan tidur.

Sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan evaluasi yang tepat.

Sleep apnea dapat ditangani, tetapi penanganannya perlu disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahannya.


3. Stres, Cemas, dan Pikiran yang Tidak Berhenti

Tubuh mungkin sudah berada di tempat tidur, tetapi pikiran masih bekerja.

Memikirkan pekerjaan, masalah keluarga, kondisi keuangan, hubungan, atau berbagai persoalan lain dapat membuat otak sulit memasuki kondisi rileks.

Akibatnya, seseorang mungkin tertidur lebih lama, lebih sering terbangun, atau mendapatkan tidur yang terasa kurang menyegarkan.

Stres juga dapat membuat tubuh berada dalam kondisi lebih waspada sehingga kualitas tidur ikut terganggu.

Cara memperbaikinya

Cobalah membuat rutinitas sebelum tidur yang menenangkan.

Misalnya:

  1. Berhenti bekerja 30–60 menit sebelum tidur.
  2. Jauhkan ponsel dari tempat tidur.
  3. Lakukan peregangan ringan.
  4. Mandi dengan air hangat jika membuat tubuh lebih rileks.
  5. Membaca buku ringan.
  6. Menuliskan hal-hal yang sedang dipikirkan agar tidak terus berputar di kepala.
  7. Melakukan latihan pernapasan atau relaksasi.

Jika kecemasan atau stres sudah mengganggu kehidupan sehari-hari dan tidur secara terus-menerus, pertimbangkan untuk berbicara dengan tenaga profesional.


4. Kebiasaan Menggunakan Ponsel Sebelum Tidur

Scrolling media sosial, menonton video, bermain game, atau membalas pesan sebelum tidur sudah menjadi kebiasaan banyak orang.

Masalahnya bukan hanya cahaya dari layar.

Konten yang menarik, emosional, atau membuat kita terus ingin melihat "satu video lagi" juga dapat membuat otak tetap aktif.

Akibatnya, waktu tidur dapat mundur tanpa disadari.

Cara memperbaikinya

Cobalah menerapkan aturan sederhana:

30–60 menit sebelum tidur = waktu tanpa layar.

Jika belum mampu langsung berhenti menggunakan ponsel, kurangi secara bertahap.

Aktifkan mode jangan ganggu, redupkan layar, matikan notifikasi yang tidak penting, dan jangan membawa ponsel ke tempat tidur.

Tempat tidur sebaiknya digunakan terutama untuk tidur, bukan sebagai tempat bekerja atau scrolling berjam-jam.


5. Jadwal Tidur Tidak Teratur

Tidur pukul 21.00 pada suatu hari, kemudian pukul 01.00 pada hari berikutnya, lalu bangun pada waktu yang berbeda-beda dapat mengganggu ritme biologis tubuh.

Tubuh memiliki sistem pengaturan waktu internal yang dikenal sebagai ritme sirkadian.

Sistem ini membantu mengatur kapan tubuh merasa mengantuk dan kapan tubuh lebih siap untuk beraktivitas.

Jadwal tidur yang terlalu berubah-ubah dapat membuat tubuh kesulitan mempertahankan pola tidur yang konsisten.

Cara memperbaikinya

Usahakan tidur dan bangun pada waktu yang relatif sama setiap hari, termasuk ketika akhir pekan.

Tidak harus langsung sempurna.

Jika jadwal tidur saat ini sangat berantakan, ubah secara perlahan hingga tubuh terbiasa.

Paparan cahaya alami pada pagi hari juga dapat membantu tubuh mengenali bahwa hari telah dimulai.


6. Kafein, Nikotin, dan Alkohol

Apa yang dikonsumsi pada sore atau malam hari juga dapat memengaruhi kualitas tidur.

Kafein merupakan stimulan yang dapat membuat seseorang lebih sulit mengantuk.

Efeknya dapat bertahan selama beberapa jam sehingga konsumsi kopi, teh berkafein, minuman energi, atau produk berkafein lainnya terlalu dekat dengan waktu tidur bisa mengganggu tidur.

Nikotin juga bersifat stimulan dan dapat memengaruhi tidur.

Sementara itu, alkohol mungkin membuat seseorang merasa lebih cepat mengantuk, tetapi dapat mengganggu pola tidur dan menyebabkan tidur menjadi kurang berkualitas.

Cara memperbaikinya

Jika Anda sering merasa lelah meskipun tidur cukup, perhatikan konsumsi kafein dan zat stimulan lainnya.

Cobalah menghindari kafein pada sore dan malam hari, terutama jika Anda sensitif terhadap kafein.

Jangan menggunakan alkohol sebagai cara untuk membantu tidur.


7. Kondisi Medis atau Gangguan Tidur Tertentu

Tidak semua masalah tidur disebabkan oleh kebiasaan sehari-hari.

Beberapa kondisi kesehatan dapat membuat seseorang tetap merasa lelah meskipun sudah tidur cukup.

Contohnya adalah gangguan tiroid, anemia, gangguan tidur tertentu, masalah kesehatan mental, nyeri kronis, refluks asam lambung, atau kondisi lainnya.

Obat-obatan tertentu juga dapat memengaruhi rasa kantuk maupun kualitas tidur.

Karena itu, jika rasa lelah berlangsung lama dan tidak membaik meskipun kebiasaan tidur sudah diperbaiki, penyebabnya perlu dievaluasi lebih lanjut.

Kapan sebaiknya memeriksakan diri?

Pertimbangkan berkonsultasi dengan dokter jika:

  • Rasa lelah berlangsung terus-menerus.
  • Anda selalu mengantuk berat pada siang hari.
  • Mendengkur sangat keras.
  • Sering terbangun sambil terengah-engah.
  • Ada orang yang melihat Anda berhenti bernapas ketika tidur.
  • Anda sering mengalami sakit kepala saat bangun.
  • Konsentrasi dan produktivitas sangat menurun.
  • Anda tertidur tanpa sengaja ketika bekerja, membaca, atau berkendara.
  • Gangguan tidur sudah mengganggu aktivitas sehari-hari.

Jangan mengemudi jika Anda sangat mengantuk, karena rasa kantuk dapat meningkatkan risiko kecelakaan.

Berapa Jam Tidur yang Sebenarnya Dibutuhkan?

Kebutuhan tidur berbeda-beda berdasarkan usia dan kondisi seseorang.

Pada orang dewasa, kebutuhan tidur umumnya berada di sekitar 7–9 jam per malam.

Namun, tidur lebih lama tidak otomatis berarti tidur lebih berkualitas.

Misalnya, seseorang tidur selama 8 jam tetapi sering terbangun karena mendengkur atau mengalami gangguan pernapasan.

Sebaliknya, seseorang dengan pola tidur yang teratur dan lingkungan tidur yang baik mungkin bangun dengan kondisi lebih segar.

Jadi, selain menghitung jumlah jam tidur, perhatikan juga bagaimana perasaan tubuh setelah bangun dan sepanjang hari.

7 Kebiasaan untuk Meningkatkan Kualitas Tidur

Jika ingin tidur lebih nyenyak, Anda dapat mencoba beberapa kebiasaan berikut:

1. Pertahankan jadwal tidur

Tidur dan bangun pada waktu yang relatif sama setiap hari.

2. Buat kamar nyaman

Pastikan kamar cukup gelap, tenang, dan memiliki suhu yang nyaman.

3. Kurangi penggunaan perangkat elektronik

Berikan waktu bagi tubuh dan pikiran untuk rileks sebelum tidur.

4. Batasi kafein

Hindari mengonsumsi terlalu banyak kafein, terutama menjelang waktu tidur.

5. Berolahraga secara rutin

Aktivitas fisik secara teratur dapat mendukung kualitas tidur.

Namun, perhatikan waktu olahraga jika olahraga intens membuat Anda sulit tidur.

6. Jangan gunakan tempat tidur untuk terlalu banyak aktivitas

Biasakan mengasosiasikan tempat tidur dengan tidur dan relaksasi.

7. Buat rutinitas malam

Lakukan aktivitas santai yang sama setiap malam agar tubuh mendapatkan sinyal bahwa waktu tidur sudah dekat.

Jangan Hanya Menghitung Jam Tidur

Tidur 8 jam memang merupakan hal yang baik, tetapi durasi tidur hanyalah salah satu bagian dari tidur yang sehat.

Jika Anda tetap merasa lelah setelah tidur cukup, coba perhatikan apakah Anda sering terbangun, mendengkur keras, mengalami gangguan pernapasan, memiliki jadwal tidur tidak teratur, terlalu banyak menggunakan gawai pada malam hari, atau sedang mengalami stres.

Perubahan kebiasaan sederhana dapat membantu meningkatkan kualitas tidur.

Namun, jika rasa lelah terus berlangsung, semakin berat, atau disertai gejala seperti gangguan pernapasan saat tidur dan kantuk berat di siang hari, sebaiknya konsultasikan dengan dokter.

Tidur yang baik bukan hanya tentang berapa lama Anda berada di tempat tidur, tetapi juga seberapa baik tubuh mendapatkan kesempatan untuk benar-benar beristirahat dan pulih.

Catatan: Artikel ini bersifat informatif dan tidak menggantikan diagnosis atau saran medis dari tenaga kesehatan.

Berita Terkait