Bungko News – Pemutakhiran Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) terbukti memperluas jangkauan dan meningkatkan akurasi penyaluran bantuan sosial.
Sejak DTSEN digunakan pada Triwulan II 2025, sebanyak 4.330.417 keluarga penerima manfaat (KPM) baru pada desil 1-4 yang sebelumnya tidak pernah menerima bansos kini telah mendapatkan bantuan.
Bansos Bertambah Tiap Triwulan Sejak Pakai DTSEN
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengatakan bertambahnya penerima adalah hasil pemutakhiran data berkelanjutan melalui kolaborasi kementerian/lembaga dan pemerintah daerah.
"Sejak tahun 2025 setiap triwulan penyaluran ada perbaikan-perbaikan data penerima bansos, baik itu PKH, Bantuan Pangan Non Tunai maupun Penerima Bantuan Iuran (PBI)," ujar Gus Ipul dalam konferensi pers di Kementerian Sosial, Selasa (8/9/2026).
Rincian KPM baru sejak DTSEN digunakan:
- Triwulan II 2025 (April-Juni 2025): 1.379.043 KPM baru
- Triwulan III 2025 (Juli-September 2025): 1.696.007 KPM baru
- Triwulan I 2026 (Januari-Maret 2026): 1.179.506 KPM baru
- Triwulan II 2026 (April-Juni 2026): 56.276 KPM baru
- Triwulan III 2026 (Juli-September 2026): 19.585 KPM baru
Total:
4.330.417 KPM baru desil 1-4.
"Sudah ada 4.330.417 keluarga penerima manfaat yang baru. Ini perlu saya sampaikan sebab banyak masyarakat yang belum mendapatkan informasi bahwa perbaikan data itu sangat membantu kami menyalurkan bantuan sosial lebih tepat sasaran," tegas Gus Ipul.
Dari DTKS ke DTSEN: Data Tunggal Dikelola BPS
Gus Ipul menjelaskan, proses ini merupakan konsolidasi data nasional setelah terbit Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2025.
Melalui kebijakan tersebut, Badan Pusat Statistik (BPS) mendapat tugas sebagai pengelola data tunggal.
"Kementerian, lembaga dan pemerintah daerah diwajibkan untuk membantu pemutakhiran dengan mengirimkan berbagai data yang didapatkan sesuai bidang tugas masing-masing untuk dilakukan verifikasi, validasi, dan disetarakan sesuai dengan ukuran-ukuran yang telah ditetapkan oleh BPS," kata Gus Ipul.
Data tersebut kemudian disajikan dalam bentuk pemeringkatan kesejahteraan relatif, yakni desil 1 hingga desil 10, dimana desil 1 adalah kelompok paling miskin dan desil 10 paling sejahtera.
Sebelum DTSEN, penyaluran bansos mengacu pada Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
Mulai Triwulan II 2025, basis resmi beralih ke DTSEN.
Komposisi Penerima Kini 100% Desil 1-4 untuk PKH dan Sembako
Pemutakhiran tercermin dari perubahan komposisi penerima.
Pada Triwulan II 2026, seluruh penerima PKH dan sembako telah berada pada desil 1-4, tidak lagi ada penerima di luar desil tersebut.
- PKH desil 1-4: Meningkat dari sekitar 8,33 juta keluarga pada Triwulan I 2025 menjadi 10 juta keluarga pada Triwulan II 2026.
- Bantuan sembako (BPNT) desil 1-4: Meningkat dari sekitar 14,20 juta keluarga menjadi 18,25 juta keluarga.
Perubahan drastis terjadi pada PBI-JKN:
- Penerima desil 1-5 meningkat dari 76.479.692 jiwa (April 2025) menjadi 96.395.043 jiwa (April 2026)
- Penerima desil 6-10 turun dari 15.033.200 jiwa menjadi 355.396 jiwa
Ini menunjukkan koreksi besar agar Jaminan Kesehatan gratis hanya diterima kelompok miskin dan rentan.
Di Balik Angka Ada Kehidupan: Kisah Mariatun, Mistam, dan Juriah
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menekankan pembaruan data bukan sekadar angka.
"Di balik setiap data yang dirapikan oleh pemerintah, ada kehidupan yang akhirnya memiliki harapan lebih baik ke depan," ujar Amalia.
Ia mencontohkan Mariatun, perempuan dari Jawa Tengah yang tinggal bersama suami dan 4 anak tanpa pekerjaan tetap.
Setelah DTSEN dimutakhirkan, keluarganya tercatat tepat dan akhirnya memperoleh PKH.
"Satu per satu keluarga yang tadinya tidak terdata menjadi terdata. Mereka yang tadinya tidak terlihat oleh pemerintah menjadi terlihat, dan kemudian pemerintah bisa mengulurkan bantuannya secara lebih tepat," kata Amalia.
Gus Ipul menambahkan contoh konkret lain:
- Mistam Rizwandi, warga Jawa Barat desil 1. Sebelumnya tidak menerima bansos, kini dapat PKH + sembako.
- Juriah dari Kabupaten Brebes, desil 1. Sebelumnya tidak menerima, kini dapat PKH dan sembako.
DTSEN Dinamis: Ada yang Dapat, Ada yang Dicoret
Di sisi lain, Gus Ipul menegaskan ada pula penerima lama yang kini tidak lagi tercatat setelah verifikasi.
"Ini contoh-contoh mereka yang sebelumnya tidak mendapatkan bansos, sekarang mendapatkan bansos. Sebaliknya, ada juga yang sebelumnya mendapatkan, sekarang tidak mendapatkan lagi," kata Gus Ipul.
Menurutnya, dinamika ini penting agar bansos benar-benar menjangkau yang membutuhkan.
Pemerintah tidak hanya menambah yang belum terjangkau, tetapi juga melakukan koreksi terhadap data penerima yang kondisi ekonominya telah berubah menjadi lebih sejahtera.
Pemutakhiran DTSEN akan terus dilakukan setiap triwulan melalui kolaborasi Kemensos, BPS, kementerian/lembaga, dan pemerintah daerah.