Bungko News – Harga emas dunia berhasil menguat pada perdagangan akhir pekan lalu.
Namun, penguatan tersebut belum cukup untuk mengangkat performa sang logam mulia yang masih tertekan sepanjang pekan.
Pada perdagangan Jumat (25/9/2026), harga emas dunia di pasar spot ditutup di level US$ 4.285 per troy ons.
Harga menguat 0,24% dibandingkan posisi hari sebelumnya.
Meski ditutup di zona hijau, emas masih mencatat koreksi mingguan.
Sepanjang perdagangan minggu lalu, harga emas terkoreksi 2,24%.
Grafik:
Harga Emas di Pasar Spot (Sumber:
Bloomberg)
Terbebani Sinyal Hawkish The Fed
Ekspektasi terhadap kebijakan moneter ketat menjadi beban utama bagi harga emas.
Bank sentral di berbagai negara sudah menaikkan suku bunga acuan, dan tren pengetatan sepertinya belum akan berakhir di tahun ini.
Bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve menjadi sorotan utama.
Gubernur Kevin Warsh dan kolega memutuskan menaikkan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 3,75-4% dalam rapat bulan ini.
Berdasarkan dot plot terbaru, The Fed diproyeksikan masih akan menaikkan suku bunga acuan setidaknya sekali lagi hingga akhir tahun.
Bahkan pasar menilai The Fed bisa mengerek suku bunga dalam dua rapat terakhir di 2026.
Grafik:
Dot Plot Federal Funds Rate September 2026 (Sumber:
FOMC)
Mengutip CME FedWatch, probabilitas suku bunga acuan di AS naik ke 4-4,25% dalam rapat Komite Pengambil Kebijakan (Federal Open Market Committee/FOMC) Oktober mencapai 65,9%.
Kemudian peluang suku bunga kembali naik 25 bps ke 4,25-4,5% pada rapat Desember sebesar 53,7%.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil atau non-yielding asset.
Memegang emas menjadi kurang menguntungkan di tengah lingkungan suku bunga tinggi, karena investor bisa mendapatkan return lebih tinggi di aset berbasis dolar.
"Ini menjadi tantangan yang sulit bagi emas, bahkan meski tren bullish jangka panjang belum berubah. Mungkin perlu katalis baru untuk mendorong harga lebih tinggi," kata Christopher Wong, Analis di Oversea-Chinese Banking Corp (OCBC), sebagaimana diberitakan Bloomberg News.
Analisis Teknikal: Peluang Rebound Pekan Ini
Lantas bagaimana prediksi gerak harga emas untuk pekan ini? Apakah bakal turun lagi atau bisa bangkit berdiri?
Secara teknikal dengan perspektif mingguan (weekly time frame), emas masih tersangkut di zona bearish.
Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang berada di level 46.
RSI di bawah 50 mengindikasikan suatu aset sedang berada di posisi bearish.
Namun, RSI emas belum jauh di bawah 50 sehingga bisa dibilang cenderung netral.
Sementara indikator Stochastic RSI 14 hari berada di level 44.
Indikator ini menghuni area jual (short) walau tidak terlalu kuat.
Untuk perdagangan minggu ini, harga emas masih berpeluang untuk naik.
Cermati pivot point di US$ 4.306/troy ons sebagai penentu arah.
Jika menguat:
Dari pivot tersebut, harga emas berpotensi menguji Moving Average (MA) 5 di US$ 4.341/troy ons.
Resisten lanjutan ada di rentang US$ 4.353 - 4.449/troy ons.
Target paling optimistis ada di US$ 4.511/troy ons.
Jika melemah:
Namun jika harga berbalik turun, maka US$ 4.252/troy ons akan menjadi support terdekat.
Penembusan di titik ini berisiko memangkas harga lebih dalam ke level US$ 4.215 - 4.159/troy ons.
Target paling pesimistis berada di US$ 4.073/troy ons.
Disclaimer:
Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi.