Sejumlah desa di Indonesia menggerakkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai motor penggerak ketahanan pangan lokal.
Mulai dari peternakan bebek di Cangko, budidaya jagung pakan ternak di Jaya Bhakti, hingga inovasi agroeduwisata dan pengurangan sampah pangan di Bali, BUMDes bukan hanya menopang ekonomi desa tetapi juga menjaga kedaulatan pangan nasional.
Simak ragam contoh inspiratif berikut beserta sumbernya.
Contoh Kegiatan BUMDes Ketahanan Pangan di Berbagai Daerah
1. BUMDes Cipelang Cangko: Peternakan Bebek dan Bibit Pisang, Anggaran 20% Dana Desa
Di Desa Cangko, Jawa Barat, BUMDes Cipelang mengalokasikan lebih dari 20 persen dana desa untuk program ketahanan pangan.
Baca Juga: Kabar Gembira KPM! PKH, BPNT, KIP, BLT Dana Desa, dan Bantuan Beras DIPERPANJANG hingga Akhir 2025
Tahun 2025, Pemerintah Desa Cangko menganggarkan Rp233.192.600 atau sekitar 20,2% dari total dana desa sebesar Rp1,154 miliar.
Anggaran ini digunakan untuk mengembangkan peternakan bebek dan ayam, serta budidaya bibit pisang.
Saat ini, BUMDes Cipelang memiliki populasi 500 ekor bebek petelur yang mampu menghasilkan 200 butir telur per hari.
Baca Juga: Pemerintah Perpanjang Penyaluran Lima Bansos Hingga Desember 2025, PKH-BPNT Tahap 4 Siap Cair
Selain itu, terdapat dua kelompok peternak dengan total 800 ekor bebek siap telur dan 2.000 ekor itik usia satu bulan.
Kepala Desa Cangko, H. Casnadi, berpesan agar pengurus BUMDes terus bersemangat agar usaha ini tidak hanya profitable tetapi juga meningkatkan pendapatan asli desa (PAD) dan melibatkan lebih banyak warga.
“Diharapkan dengan adanya kelompok ternak ini dapat memicu minat dan keikutsertaan masyarakat dalam mendukung dan ikut berpartisipasi dalam program pemerintah,” ujar H. Casnadi.
Baca Juga: CEK REKENING DULUAN! BPNT 600 Ribu Tahap 3 Bergerak Cepat, 111 Wilayah Sambut KKS Bank BNI
2. BUMDes Bhakti Jaya Desa Jaya Bhakti: Panen Jagung Pakan Ternak, Tekan Ketergantungan Impor
BUMDes Bhakti Jaya di Desa Jaya Bhakti memanfaatkan lahan seluas satu hektar untuk menanam jagung pakan ternak sebagai bagian dari Program Ketahanan Pangan Nasional 2025.
Meski menghadapi tantangan cuaca dan serangan hama, panen perdana berhasil dilaksanakan pada Agustus 2025 dengan melibatkan petani lokal dan masyarakat.
Kepala Desa Jaya Bhakti, Masrukin, menegaskan bahwa program berbasis desa seperti ini mampu memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Hasil panen jagung akan digunakan sebagai pakan ternak lokal dan sebagian dipasarkan ke wilayah sekitar.
“Dengan ketersediaan pakan ternak dari dalam desa, peternak bisa mengurangi ketergantungan pada produk luar dan menekan biaya produksi,” jelas Ketua BUMDes Bhakti Jaya, M. Ridin.
Meski hasil belum maksimal, para petani berharap adanya dukungan lebih lanjut, terutama untuk pengendalian hama dan infrastruktur.