Bungko News – Pernahkah kamu merasa berdebar-debar setiap kali melihat karakter tertentu di layar? Merasa ingin melindunginya, memahami setiap lukanya, dan merindukannya seolah-olah dia nyata? Jika ya, kamu tidak sendirian.
Fenomena ini memiliki nama: fictophilia, atau dalam bahasa Indonesia bisa disebut sebagai ketertarikan romantis terhadap karakter fiksi.
Di era digital ini, jatuh cinta pada karakter yang tidak pernah ada bukan lagi hal yang asing.
Dari anime, manga, game, hingga novel—karakter-karakter fiksi hadir dengan kepribadian yang matang, cerita yang menyentuh, dan pesona yang sulit dilupakan.
Bagi sebagian orang, perasaan ini terasa lebih nyata daripada cinta kepada manusia sungguhan.
Lalu, apakah ini normal? Apakah ini sebuah pelarian dari kenyataan? Atau justru cerminan dari sesuatu yang lebih dalam tentang diri kita?
Bab 1: Apa Itu Fictophilia?
Fictophilia, atau dalam budaya populer disebut "cinta pada karakter kertas" (paper love), adalah fenomena psikologis di mana seseorang mengembangkan perasaan cinta, ketertarikan, atau hasrat yang kuat dan bertahan lama terhadap satu atau lebih karakter fiksi.
Istilah ini mencakup tiga varian: fictosexuality (ketertarikan seksual), fictoromance (ketertarikan romantis), dan fictophilia (ketertarikan emosional yang mendalam).
Para peneliti dari Frontiers in Psychology mengidentifikasi lima tema sentral dari fenomena ini melalui analisis terhadap 71 diskusi online: kebingungan karena memiliki perasaan kuat terhadap karakter yang diketahui fiksi, stigmatisasi yang diterima, perilaku penggemar, aseksualitas, dan rangsangan supernormal.
Di Jepang, fenomena ini dikenal sebagai nijigen complex atau secondary dimension complex—kecenderungan untuk hanya tertarik secara romantis pada karakter dari dunia dua dimensi (ACGN: Animation, Comic, Game, Novel).
Sementara dalam bahasa Inggris, istilah parasocial relationship (hubungan parasosial) pertama kali diperkenalkan oleh sosiolog Donald Horton dan Richard Wohl pada tahun 1956 untuk menggambarkan hubungan satu arah antara penonton dan tokoh media.
Bab 2: Mengapa Kita Bisa Jatuh Cinta pada yang Fiksi?
2.1. Otak Kita Tidak Membedakan dengan Jelas
Penelitian neurosains menunjukkan bahwa batas antara hubungan nyata dan hubungan fiksi mungkin lebih tipis dari yang kita kira.
Sebuah studi fMRI yang melibatkan penggemar Game of Thrones menemukan bahwa bagi orang yang kesepian, aktivitas otak saat memikirkan karakter fiksi hampir tidak bisa dibedakan dari saat memikirkan teman nyata.