Bungko News – Pernahkah Anda melihat seseorang yang penghasilannya pas-pasan, tetapi nekat membeli ponsel flagship terbaru Atau tetangga yang gajinya UMR, tetapi menggelar pesta pernikahan mewah bak artis Tags: Sering Dibeli
Pernahkah Anda melihat seseorang yang penghasilannya pas-pasan, tetapi nekat membeli ponsel flagship terbaru? Atau tetangga yang gajinya UMR, tetapi menggelar pesta pernikahan mewah bak artis? Fenomena ini bukan sekadar cerita.
Ini adalah pola nyata yang membedakan pola pikir miskin dan kaya.
Orang kaya sejati—bukan mereka yang pamer harta, tetapi yang benar-benar memiliki kekayaan—cenderung tidak tertarik pada barang-barang tertentu yang justru menjadi "lambang status" bagi kalangan kurang mampu.
Mengapa? Karena orang kaya memahami nilai, bukan harga.
Mereka membeli aset, bukan beban.
Berikut adalah 7 hal yang sering dibeli oleh orang miskin demi gengsi, tetapi jarang atau bahkan tidak pernah dilirik oleh orang kaya.
1. Ponsel Flagship Terbaru dengan Skema Kredit
Tidak bisa dipungkiri: ponsel mahal sudah menjadi simbol status sosial paling instan.
Banyak orang dengan penghasilan di bawah Rp5 juta per bulan rela mencicil ponsel seharga Rp12-15 juta selama 12-24 bulan.
Padahal, fungsi dasar yang mereka gunakan sama: WhatsApp, media sosial, dan kamera biasa.
Sikap orang kaya: Mereka menggunakan ponsel sampai benar-benar rusak.
Banyak miliarder di dunia masih menggunakan iPhone generasi lama atau ponsel menengah.
Bagi mereka, ponsel adalah alat, bukan status.
Uang yang dihemat dari tidak gonta-ganti ponsel dialirkan ke investasi.
Contoh nyata: Warren Buffett masih menggunakan ponsel lipat lawas senilai $20.
Elon Musk pun sempat mengaku menggunakan iPhone yang sudah usang.
2. Mobil Mewah Bekas dengan Cicilan Berat
Mobil Eropa bekas berumur 10 tahun dengan harga Rp100-150 juta sering menjadi incaran pegawai kantoran yang ingin terlihat "berkelas".
Padahal, biaya perawatan, pajak, dan konsumsi bensin bisa mencapai 5-10 juta per bulan.
Penghasilan habis hanya untuk menjaga gengsi di depan tetangga.
Sikap orang kaya: Mereka lebih memilih mobil baru yang irit, andal, dan nilai jualnya terjaga (seperti Toyota, Honda, atau Suzuki).
Atau bahkan mobil bekas yang murah tetapi fungsional.
Orang kaya sejati tidak ragu naik angkutan umum atau ojek online jika lebih efisien.
Fakta menarik: Pendiri IKEA, Ingvar Kamprad, dikenal masih mengendarai Volvo lawas berumur 15 tahun.
Ia tidak perlu mobil mewah untuk membuktikan kekayaannya.
3. Pakaian Bermerek Mencolok (Logomania)
Orang dengan kantong tipis sering rela merogoh 2-3 bulan gaji untuk membeli tas atau sepatu dengan logo besar desainer ternama.
Tujuannya? Agar dilihat orang lain.
Ironisnya, barang tersebut sering dipakai hanya di akhir pekan atau saat acara tertentu—sisanya disimpan rapi di lemari.
Sikap orang kaya: Mereka lebih menyukai pakaian no-logo, bahan berkualitas, dan potongan yang rapi.
Mereka membeli karena kenyamanan dan ketahanan, bukan karena merek.
Bahkan banyak miliarder yang rutin membeli pakaian di toko ritel biasa seperti Uniqlo atau Decathlon.