Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Indonesia.
Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) secara resmi menjadikan pengembangan BUMDes sebagai salah satu output prioritas pada tahun anggaran 2026 dengan alokasi anggaran mencapai Rp89,6 miliar untuk mengembangkan 1.200 BUMDes.
Menteri Desa Yandri Susanto menegaskan bahwa pemerintah akan terus mendorong pembangunan ekonomi desa melalui pendekatan berbasis potensi, penguatan kelembagaan ekonomi desa, serta kolaborasi dengan berbagai kementerian, lembaga, dan mitra lainnya.
Hingga Maret 2026, jumlah BUMDes di Indonesia mencapai 72.807 unit, terdiri dari 66.332 BUMDes dan 6.475 BUMDes Bersama.
Namun, baru 45.245 yang telah berbadan hukum, dan hanya 4,3 persen yang dinilai sangat kompetitif.
Ini menunjukkan bahwa masih banyak ruang bagi desa-desa di Indonesia untuk mengoptimalkan potensi ekonominya melalui BUMDes.
Berikut adalah 10 rekomendasi usaha BUMDes terbaru yang paling menjanjikan pada tahun 2026, berdasarkan tren, potensi pasar, dan keberhasilan yang telah dibuktikan oleh berbagai BUMDes di seluruh Indonesia.
1. Layanan Internet Desa dan Konektivitas Digital
Transformasi digital bukan lagi monopoli perkotaan.
BUMDes mulai mengambil peran strategis dengan membangun platform digital dan menyediakan layanan internet bagi warganya.
BUMDes Bina Sejahtera Mandiri di Kabupaten Siak, Riau, menjadi contoh sukses dengan menyediakan layanan internet STTH dengan harga terjangkau—Rp180 ribu untuk 10 Mbps dan Rp200 ribu untuk 20 Mbps.
Berawal dari modal Rp100 juta, BUMDes ini kini memiliki modal Rp1,6 miliar dan pada tahun 2025 menyetorkan Rp151 juta ke Pendapatan Asli Desa (PADes).
Layanan internet desa tidak hanya memberikan pemasukan bagi BUMDes, tetapi juga membuka ekosistem digital bagi UMKM lokal.
Sebanyak 80 kelompok UMKM binaan BUMDes tersebut kini telah memiliki izin usaha dan sertifikasi halal.
Potensi keuntungan: Margin tinggi, biaya operasional relatif stabil, permintaan terus meningkat seiring digitalisasi masyarakat desa.
2. Layanan Pembayaran Digital (PPOB/BRILink)
Unit Payment Point Online Bank (PPOB) melayani pembayaran listrik, PDAM, pulsa, BPJS, hingga transfer antarbank.
Di desa yang jauh dari jangkauan perbankan, layanan ini sangat dibutuhkan.
BUMDes Mandiri Sejahtera Titik di Kediri mengelola berbagai lini usaha termasuk layanan pembayaran pajak dan transaksi digital.
Keunggulan usaha ini adalah biaya operasional rendah, tidak membutuhkan stok barang, dan margin konsisten dari biaya administrasi.
BUMDes dapat bermitra dengan perbankan nasional untuk menjadi agen BRILink atau agen bank lainnya.
Potensi keuntungan: Pendapatan pasif berkelanjutan, modal awal kecil, cepat beroperasi.
3. Pengelolaan Wisata Desa
Desa dengan potensi alam, budaya, atau wisata religi dapat mengoptimalkannya melalui BUMDes.
Pengelolaan tiket, parkir, homestay, dan produk UMKM menjadi sumber pendapatan yang signifikan.
Menteri Desa Yandri Susanto secara khusus mendorong pengembangan desa wisata sebagai salah satu program unggulan.
BUMDes Damai Lifuleo di NTT berhasil meningkatkan pendapatan desa melalui pengembangan sektor pariwisata Pantai Oelsina yang memiliki keindahan pesisir.
Di Desa Wonosoco, Kudus, pengelolaan Pasar Sarwono oleh BUMDes berhasil menghidupkan sektor wisata desa sekaligus memberdayakan masyarakat.
Bahkan, dari hasil pengelolaan wisata Umbul Pelem, setiap warga Desa Wunut pada tahun 2026 menerima THR sekitar Rp250 ribu per orang.
Potensi keuntungan: Multiplier effect besar, memberdayakan banyak warga, pendapatan berkelanjutan.
4. Pertanian dan Agrowisata Terpadu
BUMDes dapat menjadi offtaker hasil pertanian warga, menyediakan pupuk, bibit, hingga menyewakan alat mesin pertanian (alsintan).
Model ini sangat cocok untuk desa agraris.
BUMDes Maju Makmur di Sukoharjo berhasil mengembangkan lahan pertanian di tepian Sungai Bengawan Solo, tidak hanya menghasilkan jagung dan padi, tetapi juga menyiapkan kawasan edukasi pertanian hingga peternakan.
Data menunjukkan sebanyak 1.215 BUMDes di Jawa Timur beroperasi pada kategori budidaya pertanian, mencakup pangan, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan.
Pemerintah Kabupaten Kuningan bahkan mengalokasikan Rp76 miliar sebagai penyertaan modal BUMDes untuk program ketahanan pangan desa.
BUMDes di sana mampu menyerap 487 tenaga kerja dan memberikan kontribusi PADes sebesar Rp587 juta.
Potensi keuntungan: Pasar jelas, mendukung ketahanan pangan nasional, dapat dikombinasikan dengan wisata edukasi.
5. Peternakan Terpadu (Ayam Petelur, Domba, Bebek)
Sektor peternakan menjadi salah satu usaha BUMDes yang paling menjanjikan di 2026.
BUMDes Jaya Sakti di Gumulungtonggoh fokus mengembangkan usaha peternakan ayam petelur yang dinilai memiliki peluang pasar baik dan berkelanjutan, dengan kontribusi sekitar Rp30 juta terhadap PADes dalam satu tahun terakhir.
BUMDes Anom Jaya Mandiri di Ngawi sukses mengelola penggemukan domba berbasis kelestarian lingkungan.
Domba dipilih karena memiliki siklus perputaran modal relatif cepat, sekitar 3-4 bulan per periode penggemukan.
Dari 53 ekor domba awal, BUMDes ini berhasil menjual 29 ekor dan sisanya telah dipesan.
BUMDes Mandaya Berkah di Carenang mengembangkan budidaya bebek petelur dengan 300 ekor sebagai tahap awal menuju peternakan berkelanjutan.
Sementara itu, BUMDes Cikahuripan di Bekasi mengembangkan usaha penggemukan sapi melalui skema kolaborasi dengan pengusaha setempat.
Potensi keuntungan: Permintaan pasar stabil, siklus modal cepat, dapat menyuplai kebutuhan hari raya.
6. Pengelolaan Air Bersih dan Depot Air Minum Isi Ulang
Di desa dengan akses air terbatas, BUMDes dapat mengelola sumur bor, jaringan air bersih, atau depot air minum isi ulang.
Model bisnisnya bisa berupa berlangganan bulanan, sistem meteran air, atau penjualan galon isi ulang.
BUMDes Sejahtera di Jangkang memiliki unit usaha produksi air minum kemasan "Seribu Akar" yang menjadi salah satu penyumbang pendapatan.
Layanan air bersih dan sanitasi berbasis masyarakat (pamsimas) juga dikelola oleh BUMDes Mandiri Sejahtera Titik di Kediri.
Potensi keuntungan: Kebutuhan dasar masyarakat, pendapatan berulang (subscription), dampak sosial tinggi.
7. Bank Sampah dan Pengelolaan Limbah
Isu lingkungan sekaligus peluang ekonomi.
BUMDes dapat mengelola bank sampah, produksi kompos, atau daur ulang plastik.
Nilai tambahnya adalah mendukung desa bersih, mengurangi beban TPA, dan menciptakan lapangan kerja baru.
BUMDes Bahungin di Kalimantan Selatan menjadi contoh inspiratif dengan mengubah limbah pertanian dan industri—serbuk gergaji dan jerami pasca-panen—menjadi media tanam jamur tiram.
Dengan investasi Rp150 juta dari dana desa 2025, BUMDes ini berhasil memanen 20 kilogram jamur tiram dari 5.000 media tanam, yang dijual Rp40.000 per kilogram.
Rencananya, media tanam akan ditingkatkan menjadi 10.000 unit untuk memenuhi permintaan pasar yang tinggi.
Potensi keuntungan: Modal relatif kecil, dampak lingkungan positif, produk bernilai jual tinggi.
8. Unit Usaha Perdagangan dan Sembako Desa (BUMDes Mart)
BUMDes dapat membuka toko sembako atau grosir bahan pokok dengan harga lebih stabil dibanding pasar luar desa.
Selain memenuhi kebutuhan warga, unit ini bisa menjadi mitra penyaluran bantuan sosial atau distribusi kebutuhan pokok.
Di Desa Belu, BUMDes Mart direncanakan menjual komoditas pertanian dan diharapkan menjadi motor ekonomi desa, terutama untuk mendukung pembiayaan program sosial bagi warga miskin ekstrem.
BUMDes di Desa Tanjung mengelola Pasar Sarwono yang tidak hanya menjadi pusat perbelanjaan tetapi juga destinasi wisata.
Potensi keuntungan: Perputaran uang cepat, pasar jelas (warga desa sendiri), risiko relatif terukur.
9. Jasa Persewaan Alat dan Perlengkapan
Unit usaha persewaan relatif aman untuk desa dengan mobilitas tinggi.
Jenis usaha yang bisa dikembangkan antara lain sewa tenda dan kursi hajatan, sewa molen cor, sewa sound system, dan sewa kendaraan operasional desa.
BUMDes Sejahtera di Jangkang memiliki unit usaha penyewaan tenda, kursi, dan perlengkapan lainnya sebagai salah satu dari tiga unit usaha utamanya.
Meskipun modal awal cukup besar, perawatan yang baik akan memberikan pemasukan jangka panjang.
Potensi keuntungan: Pendapatan berulang, aset desa tetap terjaga, memberdayakan warga sekitar.
10. Pengolahan Pangan dan Produk UMKM Desa
BUMDes dapat mengembangkan usaha pengolahan pangan berbasis potensi lokal.
BUMDes Buni Geulis di Ciamis berkolaborasi dengan Tim Penggerak PKK desa untuk mengembangkan produk olahan berbahan dasar ikan seperti baby fish.
Program ini ditujukan untuk membuka peluang usaha baru, khususnya bagi kaum ibu.
BUMDes juga memperluas jejaring usaha melalui kerja sama dengan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna mendukung pemasaran produk lokal.
BUMDes Entikong menambahkan dua unit usaha baru pada 2026, yaitu sektor ketahanan pangan dan produk packing makanan dan minuman.
Unit usaha packing melayani kebutuhan pengemasan produk UMKM desa agar memiliki standar yang lebih baik dan layak bersaing di pasar yang lebih luas.
Potensi keuntungan: Nilai tambah produk meningkat, membuka lapangan kerja, mendukung UMKM lokal.
Penutup: Kunci Sukses Mengembangkan BUMDes
Agar BUMDes tidak gagal atau justru menjadi beban APBDes, ada beberapa prinsip yang harus dijaga:
-
Studi kelayakan sederhana sebelum memulai usaha, berbasis potensi desa dan analisis pasar.
-
Pengelolaan profesional dan transparan, termasuk pelaporan keuangan yang akuntabel.
-
Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk koperasi desa, pemerintah daerah, dan sektor swasta.
-
Adaptasi terhadap perkembangan digital, memanfaatkan platform online untuk pemasaran dan pengelolaan usaha.
-
Fokus pada keberlanjutan, bukan sekadar proyek musiman.
Dengan semangat transformasi ekonomi desa yang digaungkan Kemendes PDT pada 2026, BUMDes memiliki peluang emas untuk menjadi motor penggerak ekonomi desa yang mandiri, produktif, dan berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pilihan usaha yang tepat, dikelola dengan profesional dan transparan, akan membawa BUMDes tidak hanya menjadi sumber PADes, tetapi juga pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat desa secara keseluruhan.